Khutbah Idul Fitri 1 Syawwal 1433 H. (19 Agustus 2012)
di KJRI Marseille, Prancis.
Oleh: Ayang Utriza NWAY
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lilLâhil hamd
Bapak/Ibu, saudara/i dan sahabat dalam rasa damai yang penuh kesyukuran
Setelah satu bulan penuh kita menjalankan ibadah puasa Ramadan, pagi ini kita memasuki hari raya Idul Fitri. Secara kebahasaan idul fitri berarti kembali kepada kesucian, karena pada hari ini kita kembali suci sebagaimana saat kali pertama Ibu melahirkan kita. Tidak berdosa. Tidak bernoda. Putih. Bersih. Kesucian tersebut harus kita jaga, karena ialah yang akan menerangi hati kita dalam menjalani kehidupan pasca-ramadan dalam 11 bulan yang akan datang. Allah swt. berfirman di dalam Alquran surat al-Rûm/30:30 mengenai kesucian manusia ini:
“Fitratallâhi fatarannâsa ‘alayha, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu...”.
Saat mendengar ayat ini, Umar Ibn Khattab ra. bertanya kepada Muadz Ibn Jabal ra.: “ma qiwâmu hazihil ummah” (Apakah tiang umat Islam ini?). Muadz menjawab: salâsun wa hunna al-munjiyyât, tiang umat Islam itu ada 3 dan ketiganya adalah penyelamat, yaitu ikhlas, salat, dan taat.
Saat Muadz Ibn Jabal menjelaskan ikhlas, beliau mengatakan wa huwa al-fitrat allâtî fatarannâsa ‘alayhâ, ikhlas itu adalah fitrah manusia dan atas fitrah tersebutlah Allah menciptakan manusia . Jadi, menurut Muadz, sahabat Rasulullah saw. yang ahli tafsir Alquran, makna fitrah di dalam ayat di atas (QS.30:30) adalah IKHLAS. Dari penjelasan tersebut, kini kita mendapat pengertian baru bahwa idul fitri berarti kembali kepada keikhlasan.
Memang salah satu tujuan puasa Ramadan yang baru saja kita lalui adalah kita dilatih membiasakan diri menjadi orang berhati ikhlas. Rasulullah bersabda: sesungguhnya Allah berfirman “Kullu ‘amalibni âdama lahu, illas sawm, fa’innahu lî, fa’ana ajzi bihi”, semua perbuatan anak Adam itu adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Hanya Allah semata yang Maha Mengetahui apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Kita tidak makan dan minum hanya untuk Allah dan bukan untuk mencari pujian makhluk. Di sini kita dilatih untuk ikhlas. Tetapi, mungkin, keikhlasan itu telah hilang dari hati kita disebabkan perjalanan kehidupan. Diri menjadi pamrih. Diri hanya mencari kekaguman dan pujian. Dengan berpuasa, kita dilatih untuk ikhlas.
Lalu apakah sebenarnya ikhlas itu?
Alquran menjelaskan bahwa ikhlas adalah adalah khusyuk kepada Allah dalam ketaatan, memurnikan bagiNya dalam ketuhanan, mengesakanNya dalam ibadah, dan tidak menjadikan sekutu bagiNya di dalam ibadah . Begitu pentingnya makna Ikhlas ini, Allah mengkhususkan satu surat dengan menamakannya surat al-Ikhlas.
Jika kita perhatikan dengan seksama, maka isi surat al-Ikhlas ini adalah tentang keesaan Allah swt. Ikhlas berarti hanya mencukupkan diri kepada Allah swt. saja dalam segala hal, karena Ialah Tuhan yang Maha Esa yang menciptakan kita, kepadaNyalah semua urusan kembali. Ikhlas adalah menerima Allah swt. beserta seluruh kebenaranNya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLâhil hamd
Bapak/Ibu, saudara/i dan hadirin sekalian yang sedang memperindah dirinya
Kita harus bersyukur kepada Allah telah menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan pelatihan diri untuk menjadi ikhlas. Dalam kehidupan masa kini yang penuh dengan beban dalam segala hal, keikhlasan memainkan peranan penting bagi kesehatan jiwa dan badan kita. Tanpa keikhlasan, kita akan menjadi pribadi yang stres (tertekan) dan bisa berujung pada bunuh diri atau paling tidak sakit jiwa.
Banyak penyebab stres dan hal ini berlaku bagi semua orang. Kemacetan lalu lintas di jalan raya, penuh-sesak di dalam angkutan umum, jadwal keberangkatan yang tertunda, kebisingan sepeda motor dan mobil, suara telepon selular, tangisan dan rengekan anak kecil, suara ambulan, beban pekerjaan di kantor yang menumpuk, kritik dari pimpinan, bentakan dari atasan, tetangga yang ribut, beban pekerjaan di rumah tangga, keluhan isteri, kemarahan suami, dan seterusnya.
Coba bayangkan, betapa tidak tertekannya kita dengan kondisi kehidupan seperti ini. Stres adalah penyakit abad ini yang berpengaruh pada tubuh. Akibat stres, kita bisa terkena berbagai macam penyakit : kanker, hati, pusing, sesak nafas, serangan jantung, pencernaan, pankreas, alergi, gatal-gatal dan lainnya.
Dengan ikhlas, kita bisa terhindar dari terkena penyakit-penyakit tersebut. Karena kita yakin bahwa semuanya sudah ada yang mengatur, yaitu Allah swt. Yang kita bisa lakukan adalah usaha sebaik mungkin dan sisanya kita percayakan kepada Allah swt. Inilah makna ikhlas yang sesungguhnya.
Sebaliknya, orang yang belum berhati ikhlas, selalu berburuk sangka dan marah kepada Allah. Orang yang belum mempunyai hati yang ikhlas selalu menggerutu atas kekurangannya: ia sudah berdoa, tapi nasibnya tak berubah.
Seorang yang sedang sekolah dan kuliah terkadang marah dan menggerutu kepada Allah swt. mengapa hasil ujiannya atau penelitiannya tidak bagus, tanggapan teman atau pembimbing tak seperti yang diharapkan.
Orang yang sedang mencari pasangan hidup berdoa kepada Allah swt. agar diberikan jodoh yang cantik bagi lelaki dan yang ganteng bagi perempuan, tapi ia menikah dengan perempuan yang menurutnya kurang cantik atau lelaki yang kurang ganteng.
Orang yang berharap mendapatkan pekerjaan tertentu, tetapi memperoleh pekerjaan yang tak disenanginya, lalu marah, menggerutu, dan stres.
Orang yang baru dipecat, diberhentikan, atau dipindahtugaskan menggerutu dan marah kepada Allah swt, menyalahkan dirinya sendiri, mengapa ia memiliki pimpinan dan atasan yang tak berperikemanusiaan.
Isteri marah kepada Allah swt., karena suaminya berselingkuh, padahal ia sudah berbuat baik. Suami marah karena isterinya tidak melayaninya dengan baik, padahal ia sudah memenuhi kewajibannya.
Mengapa orang lain kaya, kita miskin. Mengapa orang lain punya rumah bagus, kita masih sewa. Mengapa orang punya mobil, kita masih naik angkutan umum. Kita merasakan ketidakadilan menimpa kita. Akibatnya, kita marah dan menggerutu kepada Allah swt. dan akhirnya kita stres sendiri.
Di dalam mata lahir kita, mungkin apa yang kita terima dan rasakan adalah bentuk ketidakadilan yang nyata, tetapi di mata Allah swt. hal tersebut adalah yang terbaik. Kita tidak tahu apa hikmah di belakang semua kejadian yang kita anggap sebagai musibah.
Bagi pelajar dan mahasiswa yang tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, Allah ingin menegur bahwa mungkin dalam proses belajar tersebut dipenuhi dengan ketidakjujuran, seperti menyontek dan menjiplak.
Bagi yang mengeluh isterinya tak sesuai yang diharapkan atau suaminya tak seperti yang dibayangkan, tetapi dalam pandangan Allah mereka adalah pasangan yang terbaik.
Mungkin isteri yang dianggap kurang itu justeru meninggikan derajat sang suami di hadapan Allah swt. Isteri tersebut menjadi kunci keberhasilan di dalam kehidupan keluarga. Isteri tersebut membawa kedamaian dan kebahagian di tengah keluarga.
Mungkin suami yang dianggap kurang itu, justeru menjadi suami yang bertanggungjawab dan dapat menuntun isteri dan anak-anak lebih dekat kepada Allah swt.
Bagi mereka yang baru saja diberhentikan atau dipindahtugaskan atau diperlakukan tidak adil, mungkin sedang Allah selamatkan dari pemimpin atau atasan yang zalim, yang hanya mementingkan golongan, partai, dan keluarganya saja. Allah selamatkan kita dari kezaliman sang pemimpin atau atasan kita dengan cara yang Allah telah gariskan.
Apa yang kerap kita sebut sebagai musibah, bencana, dan kesialan di dalam kehidupan kita, sebenarnya hanya undangan untuk menyelami dalamnya kehidupan. Masalah adalah anak tangga menuju kebesaran pribadi. Dengan keikhlasan kita dapat melihat kembali kebaikan yang ada pada setiap gerak kehidupan kita. Orang berhati ikhlas akan tersenyum pada setiap perjalanan kehidupannya.
Dalam kehidupan, kita punya banyak keinginan. Ingin berhasil. Ingin kaya. Ingin rumah mewah. Ingin mobil bagus. Ingin harta berlimpah. Ingin isteri cantik yang salehah. Ingin suami ganteng yang perhatian dan bertanggungjawab. Ingin punya banyak anak. Ingin pekerjaan layak. Ingin jabatan tinggi. Ingin dipuji. Ingin dihargai. Ingin dikagumi. Ingin terkenal, dan keinginan lainnya.
Keinginan memang energi kemajuan, tetapi tanpa pengendalian diri, ia berubah menjadi keserakahan. Mata lahir kita selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Kita selalu mencari kehidupan yang seharusnya dan bukan kehidupan yang sebagaimana adanya. Semua ini akibat dari hati yang belum ikhlas. Hati kita belum bisa menerima keputusan Allah swt. Kita belum mengesakan Allah swt., belum mentauhidkan diri kita bahwa hidup kita sudah ada yang mengatur.
Wa mâ ‘umirî illâ liya’budûllâha mukhlisîna lahud dîna hunafâ lahuddina…
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… (QS. Al-Bayyinah/98:5).
Dengan memeluk keikhlasan, maka semua bentuk keinginan akan terkendali. Kolam kehidupan yang keruh akibat keinginan dan keserakahan akan menjadi jernih setelah dibersihkan oleh keikhlasan. Ikhlas membuat bunga-bunga keindahan hidup berkembang. Kalau keseharian sudah diisi dengan keikhlasan, yang ada hanya keindahan dan kesempurnaan dalam hidup.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLâhil hamd
Bapak/Ibu, saudara/i dan hadirin sekalian yang sedang berbahagia
Ikhlas tersebut terdapat di dalam hati yang sehat. Hati yang sehat menurut Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah adalah hati yang bersih dari semua keinginan (syahwat) dan keragu-raguan (syubhat) yang bertentangan dengan perintah Allah swt. Hati yang sehat adalah hati yang bersih selain dari Allah swt. dan hanya menyembah Allah swt.
Menurut Huzaifah Ibn al-Yaman hati yang sehat ini adalah qalbun ajradun, yaitu hati yang tunggal yang hanya mengesakan Allah swt. dan dan bersih selain dari yang benar (hak). Di dalam hati ini terdapat cahaya yang menyinari pemilik sang hati . Inilah yang disebut hati nurani. Ia menerangi sang pemilik hati agar terus di jalan Allah swt. Oleh karena itu, Rasulullah saw. dalam suatu kesempatan bersabda ‘istafti qalbaka’ “bertanyalah kepada hatimu.” Tentu, bertanya kepada hati yang bersih akan menunjukkan jalan kebenaran.
Di dalam Alquran hati yang sehat disebut qalbun salim. Allah swt. berfirman di dalam QS. Al-Syu’arâ’/26:88-89
‘yawma la yanf’au walu wa la banûn. Illâ man atâ allâha biqalbin salîm’
“hari di mana tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali bagi yang datang kepada Allah dengan qalbun salim”.
Apakah qalbun salim itu?
Qalbun salim adalah hati yang bersih, hati yang tidak mencari apa-apa kecuali rida Allah swt, hati yang tidak bergantung kepada makhluk, hati yang tidak menginginkan gemerlap dan perhiasan dunia kecuali seperlunya saja. Kemewahan dunia tidak sampai masuk ke dalam hatinya. Orang yang memiliki qalbun salim itu menganggap hidup dunia seperti penyebrang, pejalan kaki saja… seperti sabda Rasulullah saw. kun ka’annaka âbiru sabîlin, jadilah engkau seakan-akan penyebrang jalan dalam hidup di dunia ini. Hanya sebentar. Hanya lewat. Demikianlah hati orang yang sehat yang di dalamnya ada keikhlasan. Dengan keikhlasan itu, ia menjalani kehidupan dengan sesungguhnya, tetapi ia akan memeluk hasil akhirnya apa adanya.
Imam al-Gazali berkata: “al-nâsu kulluhum mawtâ, illâl âlimûn, wal ‘âlimûn niyâmun illal ‘âmilûn, wal ‘âlimûna mughtarrûn illal mukhlisûn”.
A. Semua manusia itu mati, kecuali orang yang berilmu. Artinya, manusia tak ada artinya, jika tak berilmu. Orang tak berharga, jika tak ada ilmu. Orang beragama tetapi tidak ada ilmunya seperti orang mati.
B. Orang berilmu itu mati, kecuali orang yang melaksanakan ilmu tersebut. Artinya orang yang berilmu, tetapi tidak melaksanakan apa yang ia ketahui, maka tak ada gunanya. Ia tahu, hanya sebatas tahu, tapi tidak dijalankan, tidak dilaksanakan, dan tidak diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Orang berilmu, tapi tak menjalankan ilmunya, maka seperti orang tidur, tak berguna.
C. Orang yang telah melaksanakan apa yang diketahuinya, tetapi tidak ikhlas, maka ia tertipu. Artinya, bisa jadi saat melaksanakan suatu perbuatan, bukan rida Allah swt. yang dicari, bukan semata-mata untuk Allah swt., tapi untuk makhluk. Ingin dipuji. Ingin dikagumi. Contoh: orang yang peri berhaji bukan karena Allah, tapi ingin dipanggil haji. Orang yang sedekah bukan karena Allah swt., tapi karena ingin terkenal sebagai dermawan.
Jadi, orang ikhlas itu adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmu itu, dan melakukannya hanya untuk Allah swt. semata. Ia tidak mencari rida makhluk, tidak untuk dipuji dan tidak untuk dikagumi.
Apa yang kita jumpai di tengah masyarakat kita sekarang ini adalah karena kita tidak ikhlas menjalani kehidupan ini. Kita ingin lebih dari yang sepatutnya dalam segala hal. Hal yang mencolok adalah mengenai harta. Kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Asal kaya, walau haram. Asal beli walau tak butuh. Biar keren walau jual harga diri. Kita jadi serakah dan rakus akibat mata ini yang menginginkan apa yang orang lain miliki.
Kita tidak ikhlas melihat orang lain lebih kaya dari kita, lebih pandai dari kita, lebih tinggi jabatannya dari kita, lebih berhasil dari kita. Kita juga tidak ikhlas melihat perbedaan. Kita tidak ikhlas ada orang lain berbeda agama. Kita tidak ikhlas melihat orang lain punya pendapat dan pandangan yang berbeda walau dalam satu agama. Kita ingin orang lain sama seperti kita.
Tentu, Islam menyuruh umatnya harus kaya, wajib pintar, mesti menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, bekerja sekeras mungkin, berkarya sebaik mungkin, tetapi dengan cara yang benar dan baik: tidak melanggar apa yang agama dan hukum larang. Ikhlas bukan berarti pasif, menyerah, menerima apa adanya tanpa usaha.
Ikhlas adalah menerima kekurangan yang ada di dalam diri dan bekerja dengan keunggulan yang ada di dalam diri. Ikhlas adalah menerima suatu kekuatan di dalam diri dan memaksimalkan kelebihan yang dimiliki. Ikhlas adalah tegas dan bukan lemah. Ikhlas adalah memeluk hasil akhir dan menerimanya seraya meyakini inilah yang terbaik bagi dirinya dan inilah yang telah ditentukan oleh Allah swt.
Dengan hari raya Idul Fitri ini, kita merayakan kembalinya keikhlasan di dalam diri kita, di dalam hati kita.
الله أكبر بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم. ونفعنى وإيّاكم بتلاوته إنه هو الذكر الحكيم. فاستغفروا الله يغفرلكم إنّه هو البر الرحيم
Berbagi ilmu seputar ajaran Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Friday, 21 September 2012
Friday, 23 December 2011
HUKUM KHITAN
Sunat bagi Anak Lelaki
Oleh: Ayang Utriza NWAY
Dari Abu Hurayrah Nabi Muhammad saw. bersabda «al-fitratu khamsun : al-khitân, wal istihdâd, wa taqlimul azfâr, wa natful ibti, wa qasshu al-syârib» fitrah itu ada lima: khitan (sunat), mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencukur bulu ketiak, dan mencukur kumis.» (HR. Muslim, hadis no. 257, bab khisâl al-fitrah, jilid I, hlm. 135, Beirut:Dar al-Fikr)
Imam al-Nawawi menjelakan dalam Syarah Sahih Muslim (jilid 3, hlm. 146-148, bab al-khitân, Beirut:Dâr Ihyâ al-Turâs al-‘Arabiyy, tt.) bahwa:
- Makud Fitrah di dalam hadis tererbut adalah sunah.
- Memang khitan adalah sunah para Nabi.
A. Nabi Ibrahim khitan pada usia 80 tahun dengan kapak.
B. Nabi Muhammad lahir sudah terkhitan.
Hukum Khitan:
- menurut Imam Syafii, hukum khitan adalah wajib.
- menurut Imam Malik, hukum khitan adalah sunah.
- Menurut Imam Nawawi pendapat yang benar dalam Mazhab Syafii adalah jâ’iz, artinya hukum khitan itu boleh dan tidak wajib.
- Bagi orang tua wajib mengkhitankan anaknya sebelum ia balig atau dewasa.
- Disunahkan mengkhitan anak lelaki pada hari ketujuh dari kelahirannya.
- Kalau mati sebelum dikhitan, maka tidak perlu dikhitan baik yang meniggal itu anak kecil maupun orang dewasa. Ini adalah pendapat yang benar dan masyhur dalam mazhab Syafii.
Wallahu a’lam.
Saturday, 26 November 2011
HARI KIAMAT DALAM ISLAM
QS. Surat al-Naba/78
Ayang Utriza NWAY
Ayang Utriza NWAY
Surat al-Naba, surat yang ke-78 yang berarti kabar, diturunkan di Mekah.
1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
Yang bertanya di sini adalah orang-orang musyrik. Ayat ini adalah jawaban terhadap orang musyrik yang selalu bertanya-tanya, tentang apa ? Ayat ke-2 menjelaskan
2. Tentang berita yang besar,
Mereka bertanya mengenai al-naba al-azhîm, berita besar. Menurut Qatadah dan Ibnu Zayd berita besar di sini adalah kebangkitan setelah kematian, sementara menurut Mujahid adalah Alquran. Ibnu Katsir memilih pendapat pertama, yaitu kebangkitan setelah kematian. Hal ini diperkuat oleh ayat ke-3, yaitu:
3. Yang mereka perselisihkan tentang ini.
Sikap orang-orang terhadap hari berbangkit ada 2: ada yang percaya (mukmin) dan ada yang tidak percaya (kafir). Mereka yang beriman percaya bahwa ada hari kiamat, sementara orang-orang kafir ingkar terhadap kepastian datangnya hari kiamat. Terhadap orang-orang yang tidak percaya terhadap hari kiamat Allah berfirman:
4. Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui,
5. Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka Mengetahui.
Kedua ayat ini menggambarkan ancaman yang sangat serius dan janji yang pasti dari Alalh. Kalau mereka tidak percaya, tidak apa-apa, tapi lihat nanti mereka pasti akan tahu betapa hari kiamat itu benar adanya. Kapan mereka akan mengetahui? Nanti setelah meninggal, mereka benar-benar akan mengetahui bahwa hari berbangkit atau kiamat itu benar adanya. Hal ini sama seperti kita, kalau kita sudah memberitahu seseorang akan bahaya yang akan terjadi, jika melakukan hal tertentu yang kita sudah mengetahui, namun orang yang kita beritahu tidak tahu tidak mau mengerti, maka kita sering mengatakan “Lihat saja nanti, kamu juga akan tahu…”. Di ayat selanjutnya, Allah mengajak kita untuk berfikir akan keagungannya dan seluruh anugerah yang Allah telah berikan kepada kita. Ini semua untuk mengingatkan kita akan kebesaranNya.
6. Bukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,
Allah telah jadikan bumi ini hamparan yang luas untuk semua makhluk ciptaannya. Allah ciptakan benua yang luas dengan daratannya untuk ketentraman umat manusir.
7. Dan gunung-gunung sebagai pasak?,
Allah ciptakan gunung-gunung di seantero dunia sebagai penyanggah bumi, sebagai paku bumi, atau dalam istilah arsitektur: gunung-gunung ini berfungsi sebagai ‘cakar ayam’ agar kuat untuk menopang beban yang ada di atasnya. Demikian juga gunung-gunung, mereka menopang bumi agar kuat menopang beban yang ada di atas, agar bumi tidak goyang, tidak goyah.
8. Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan,
Allah jadikan manusia berpasang-pasangan. Allah menciptakan lelaki dan perempuan. Lalu dengan cara yang sah dan halal yaitu pernikahan, kita dapat menikmati hasil dari ciptaan Allah ini. Dari Pernikahan ini lahirlah anak-keturunan.
9. Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat,
Allah jadikan tidur kita sebagai istirahat setelah seharian penuh bekerja keras, capek ke sana dan ke mari.
10. Dan kami jadikan malam sebagai pakaian,
Allah jadikan malam ini sebagai pakaian. Diibaratkan malam ini adalah selimut untuk tidur kita agar nyenyak dan keesokan harinya, ketika azan subuh memanggil, badan kita sudah enak dan segar sehingga kita dapat beraktifitas lagi seperti sediakala. Malam itu ibarat tubuh kita yang butuh pakaian untuk menutupinya. Demikian juga jagat raya dan seisisinya seperti tubuh yang butuh pakaian. Pakaian untuk alam ini adalah malam. Dengan adanya malam, dunia dapat istirahat dari eksploitasi manusia di siang hari.
11. Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,
Allah jadikan siang untuk kehidupan. Siang adalah wahana dan sarana umat manusia untuk bekerja dan mendapatkan hasil yang diinginkan. Di siang hari semua aktifitas dilakukan.
12. Dan kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,
Allah telah menciptakan tujuh langit yang sama besar, luas, tinggi dan kuatnya yang Allah hiasi dengan bintang-bintang dan benda-benda planet lainnya, demikian ungkap Ibnu Katsir. Hamka mengatakan bahwa tujuh adalah angka yang menandakan banyaknya jumlah tersebut dan karenanya bahwa Allah telah menciptakan langit banyak. Ada Tujuh langit, dari langit terbawah hingga teratas. Menurut Abdullah Yusuf Ali bahwa angka tujuh merupakan simbol mistik: bahwa ada bermacam-macam tingkatan spiritualitas.
13. Dan kami jadikan Pelita yang amat terang,
Pelita yang amat terang ini maksudnya adalah matahari (al-syams al-munîrat), jelas Ibnu Katsir dan Abdullah Yusuf Ali (that is, the sun). Matahari ini ibarat pelita yang besar yang berfungsi menerangi sesuatu yang gelap. Dan matahari menerangi bumi dan seisinya. Wahhâj di sini para mufassar mengatakan sesuatu yang menyala amat terang cahayanya, sementara menurut Ibnu Abbas bersinar kemilau (safwat al-tafâsîr).
14. Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,
Kata mu’tsirât di sini memiliki beberapa arti, pertama, menurut Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Muqatil, Kalbi, Zayd Ibn Aslam dan anaknya Abdurrahman berarti ‘angin.’ Mengartikan mu’tsirat dengan al-riyâh, berarti angin, maksudnya dengan angin itu akan membuat berlimpah hujan dari awan, yang mendorong awan hingga turun hujan. Kedua, menurut Ali Ibn Abi Talhah, Ibnu Abbas, Ikrimah, Abu al-‘Aliyah, al-Dlahak, Hasan, Rabi’ Ibn Anas, Tsawri, Ibnu Jarir dan al-Farrâ’ kata mu’tsirat berarti awan. Menurut Qatadah mu’tsirat berarti langit, bagi Ibnu Abbas pendapat ini aneh. Ibnu Abbas sendiri memilih arti mu’tsirât sebagai awan. Mayoritas mufassir mengartikan mu’tsirat sebagai awan. Sajjâj menurut Tsawri ‘terus-menerus’, sementara menurut Ibnu Zayd ‘banyak,’ adapun menurut Ibnu Jarir berarti tercurah terus-menerus (al-sabbu al-mutatâbi’). Abdullah Yusuf Ali mengatakan bahwa ini adalah kekuasaan Allah dan kemurahannya yang telah menciptakan 4 kelompok, yaitu 1. Alam sekitar (ayat 6-7), 2. Alam fisik, mental dan spiritual diri manusia (ayat 8-11), 3. Bintang dan matahari (ayat 12-13), 4. Saling keterkaitan antara bumi, air dan langit dalam lingkaran air, awan, hujan, kebun. Semua ini melayani bumi dengan caranya masing-masing untuk manfaat kita semua.
15. Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,
Dengan air yang tercurah dari awan akan tumbuh biji-bijian (habb) seperti padi, jagung, kentang, mentimun dll yang darinya manusia atau binatang dapat mengambil manfaat. Dari air hujan tadi juga, akan tumbuh berbagai tetumbuhan, selain biji-bijian, baik sayur-mayur atau buah-buahan. Nabâtan berarti, kata Ibnu Katsir, sayuran hijau yang dimakan mentah-mentah.
Friday, 18 November 2011
DOA BERSYUKUR RASULULLAH SAW.
Allâhumma a‘innî ‘alâ zikrika wa syukrika wa husni ‘ibâdatika
“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa dapat mengingatMu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah untuk-Mu dengan baik.”
Allâhumma, innî a‘uzubika min zawâli ni‘matika, wa fuj’ati niqmatika, wa tahawwuli ‘afiyatika, wa jami‘i sakhotika
“Ya Allah, aku berlindung dari hilangnya nikmat-Mu, cepatnya azab-Mu, pindahnya kesehatan dari-Mu, dan semua murka-Mu.”
(Ayang Utriza NWAY, diambil dari kitab al-Syukr karya Imam Ibn Abî al-Dunyâ)
INDAHNYA HIDUP DENGAN SYUKUR
Oleh: Ayang Utriza NWAY
« …Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu… ".
(QS. Ibrâhîm/14 :7)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.“
(QS. Al-Baqarah/2:152)
Diriwayatkan oleh Yahya Bin Ya’la dari Abu Khabab dari Atha’ yang berkata “Aku bersama Ubaid Bin Umair mengunjungi Aisyah ra. Dan berkata kepadanya,
“Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah saw.!
Beliau mengangis dan bertanya “Adakah yang beliau lakukan yang tidak mengagumkan?
Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku.
Setelah beberapa saat, beliau berkata “Wahai putri Abu Bakar, izinkalah aku bangun untuk beribadah kepada Tuhanku!“
Aku menjawab “Saya senang berdekatan dengan Anda, tapi aku mengizinkannya.“
Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudlu dengan mencucurkan banyak air, lalu salat.
Beliau mulai menangis hingga ari matanya membasahi dadanya, kemudian beliau rukuk dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis.
Terus-menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk salat subuh.
Aku bertanya kepada beliau “Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?“
Beliau menjawab “Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis dedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.“ (QS. Al-Baqarah/2:164)[1].
Rasulullah adalah contoh pribadi yang bersyukur atas apa yang Allah anugerahkan kepadanya, termasuk nikmat alam semesta yang diberikan kepada manusia. Dengan adanya alam ini, kita hendaknya dapat berfikir betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita. Nikmah inilah yang akan Allah tanyakan kepada kita di hari penghitungan, sebagaimana firman Allah swt.:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).“ (QS. Al-Takâsur/102:8).
Kemanakah kita gunakan nikmat yang Allah berikan. seperti diriwayatkan al-Baghawi dalam tafsirnya[2] bahwa nikmat di sini berarti:
· Ibnu Mas’ud berkata yaitu nikmat aman dan sehat
· Qatâdah berkata sesunguhnya Allah bertanya semua nikmat yang Allah berikan kepada setiap orang.
· Ibnu ’Abbas berkata yaitu nikmat sehat badan, pendengaran, penglihatan. Allah akan menanyakan hambanya mereka menggunakannya untuk apa.
· Ikrimah berkata yaitu nikmat kesehatan dan kelapangan
· Said Bin Jubayr berkata yaitu nikmat kesehatan, kelapangan, dan harta.
· Dari Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda „“Hal pertama dari nikmat yang ditanyakan Allah kepada seorang hamba adalah: bukankah telah kami sehatkan badanmu? Memberimu minum dari air yang dingin?.
· Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda “Dua nikmat yang sering dilupakan manusia: nikmat sehat dan lapang.“
Semua nikmat yang Allah berikan kepada kita akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah: bersyukurkah atau malah mengingkari nikmat itu? Lalu apakah syukur itu?
Kata Imam al-Ghazali syukur adalah isti’mâl al-ni’mah fî al-tharîq alladzî khuliqa lahu, yaitu menggunakan nikmat di jalan yang diciptakan untuknya[3]. Jadi, syukur adalah menggunakan satu hal sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakan hal tersebut. Hakikat syukur kata Imam al-Qusyairi adalah memuji Sang Pemberi kebajikan dengan mengingat-ingat anugerah yang telah diberikan kepadanya. Bersyukur, kata sufi Junayd al-Baghdadi, adalah bahwa engkau memandang dirimu tidak layak menerima nikmat tersebut.
Syukur itu harus diwujudkan dengan tiga hal[4]:
- Dengan hati, yaitu merasakan kebaikan yang Allah berikan dan mengingat Allah di dalam hati bahwa Dia-lah yang memberikan semua nikmat itu, dan tidak melupakannya dengan cara terus berzikir atau mengingat Allah. Bersyukur dengan hati berarti terus-menerus memuliakan Allah swt.
- Dengan lisan, yaitu mengucapkan syukur dengan memuji Allah, seperti Alhamdulillah. Syukur dengan lisan berarti pengakuan atas anugerah yang Allah berikan.
- Dengan tubuh, yaitu menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk ketaatan kepada-Nya dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang maksiat. Syukur dengan tubuh berarti mengambil sikap setia dan mengabdi kepada Allah. Misalnya, diciptakan kaki untuk berjalan, diciptakan mata untuk melihat, diciptakan kuping untuk mendengar ; semuanya digunakan dalam hal-hal yang baik dan positif, dan bukan sebaliknya : kaki diciptakan bukan untuk berjalan ke tempat-tempat maksiat, untuk menendang orang, menginjak hak-hak orang, mata diciptakan bukan untuk melihat hal-hal yang haram, memelototi orang, memandang rendah orang ; kuping diciptakan bukan untuk mendengar pembicaraan yang tidak berguna dstnya.
Allah menaruh perhatian amat penting bagi orang-orang yang bersyukur ini, karena dari seluruh umat Islam yang bersyukur hanya sedikit sekali, sesuai dengan firmannya.
«…Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba/34 :13)
Nabi Musa atau Daud bertanya “Tuhanku, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan bersyukur itu sendiri adalah nikmat dari-Mu?“ Allah mewahyukan kepadanya “Sekarang, engkau telah bersyukur kepada-Ku.[5]“ Nabi Idris as. Memohon dipanjangan usianya, ketika ditanya mengapa ia meminta kepada Allah hal itu, Nabi Idris menjawab “Agar aku dapat bersyukur kepadanya, karena selama ini aku berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.[6]“
Para sufi berkata “Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah bersyukur atas apa yang tidak ada. Orang yang bersyukur adalah berterimakasih atas pemberian, tetapi orang yang sangat bersyukur adalah berterimakasih karena tidak diberi. orang yang beryukur manakali anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakali anugerah ditunda[7].
Mengapa syukur itu begitu penting? Karena dengan bersyukur saja, Allah akan menambah nikmat, sebagaimana firman Allah swt:
“...dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.“ (QS. Al Imrân/3:144)
Allah akan menambah nikmat kepada kita, jika kita mensyukuri nikmat itu untuk dekat kepada Allah, melaksanakan perintahan dan menjauhi larangannya, sesuai dengan firman Allah:
« …Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu… ". (QS. Ibrâhîm/14 :7)
[1] Al-Qusyairi, op.cit., hlm. 194-195.
[2] Abû Muhammad al-Husayn Ibn Mas’ûd al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, Beirut : Dâr Ibn Hazm, 1423 H./2002 M., hlm.1430-1.
[3] al-Ghazali, Mukhtasar Ihyâ ‘Ulumiddîn, Beirut :Dâr al-Fikr, 1414 H/1993 M., hlm. 205-207.
[4] al-Ghazali, op.cit., 205-6, dan al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyyah, terj. M. Lukmanul Hakiem, Surabaya:Risalah Gusti, 2000, hlm. 195-196.
[5] al-Ghazali, op.cit., hlm. 206 dan al-Qusyairi, op.cit., hlm. 197
[6] al-Qusyairi, op.cit., hlm. 199
[7] al-Qusyairi, op.cit., hlm. 196-197
Sunday, 13 November 2011
Doa Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram
Menjelang Tahun Baru Hijriyyah 1 Muharram 1433 H. yang jatuh pada hari Minggu 27 November 2011, ini adalah doa malam tahun baru:
Allâhumma antal ‘abadiyyul qadîmul awwalu, wa 'alâ fadhlikal ‘azhîm wa jûdikal mu'awwal, wa hâzâ 'âm jadîd qad aqbala 'alaynâ. Nas'alukal 'ishmah fîhi minasy syaytânir rajîm wa awliyâ'ihi wa junûdihi, wal 'awna 'ala hâzihin nafsil ammârati bis sû'i wal isytighâl bimâ yuqarribûna ilayka zulfâ yâ zal jalâli wal ikrâm.
Ya Allah, Engkau yang Maha Abadi, yang Maha Qadim dan yang Maha Awal, dengan karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang tinggi, ini adalah tahun baru yang baru tiba kepada kami, kami memohon kepada-Mu perlindungan dari setan, teman-teman dan bala tentaranya yang terkutuk, kami memohon kepada-Mu pertolongan atas jiwa kami yang selalu condong kepada keburukan, kami memohon kepada-Mu kesibukan apapun yang mendekatkan kami kepada-Mu, wahai Yang Maha Agung dan Mulia.
(Ayang Utriza)
Thursday, 3 November 2011
Makna dan Pesan Berkurban
Oleh: Ayang Utriza NWAY
Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban di Indonesia merupakan hari raya besar kedua setelah Hari Raya Idul Fitri. Sebaliknya, bagi masyarakat Muslim-Arab di Timur Tengah dan di Afrika, Idul Adha adalah hari raya besar pertama, sementara Idul Fitri sebagai hari raya besar kedua. Idul Adha dilihat sebagai hari raya besar yang lebih penting dari Idul Fitri, karena di dalamnya telah merekam kejadian penting.
Idul Adha adalah hari untuk mengenang kembali peristiwa penyembelihan Ismail oleh ayahandanya Nabi Ibrahim. Kejadian tersebut merupakan batu ujian ketaatan Ibrahim kepada Allah swt. Di kemudian hari, pengurbanan ini menjadi tradisi bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban baik berupa kambing maupun sapi setiap tanggal 10 Dzulhijah dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Idul Adha adalah hari untuk mengenang kembali peristiwa penyembelihan Ismail oleh ayahandanya Nabi Ibrahim. Kejadian tersebut merupakan batu ujian ketaatan Ibrahim kepada Allah swt. Di kemudian hari, pengurbanan ini menjadi tradisi bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban baik berupa kambing maupun sapi setiap tanggal 10 Dzulhijah dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Sejarah berkurban
Ali Syariati (1997) menjelaskan bahwa sejarah berkurban diawali pada saat Nabi Ibrahim merasakan kesepian. Karena hingga umurnya mencapai satu abad, ia tak kunjung dikaruniai anak. Hal ini disebabkan istrinya, Sarah, yang mandul. Ibrahim hanya dapat berdoa “Ya Tuhanku karuniailah aku seorang anak yang salih” (Qs.37:100).
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”
Selang beberapa waktu, Allah menjawab keluh kesah dan rintihan Ibrahim dengan mengaruniakan seorang putra bernama Ismail (dari Bahasa Ibrani yisma -mendengar- dan il -tuhan- yang berarti: Tuhan mendengar) melalui hamba perempuannya yang bernama Hajar. Namun di tengah kebahagiaan dan kegembiraannya itu, Allah kembali menguji Ibrahim dengan perintah melalui mimpi untuk menyembelih anak yang dikasihinya.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur yang sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Begitu menerima wahyu Allah itu, Ibrahim hamba Allah yang paling patuh dan tokoh pemberontak yang paling terkenal di dalam sejarah gemetar dan goyah sekan-akan hendak roboh, dan seakan-akan tokoh sejarah yang tak terkalahkan itu sedang mengalami kehancuran. Batinnya sangat guncang menerima wahyu itu. Bayangkan, kekayaan apa yang lebih berharga ketimbang anak? Tetapi wahyu tersebut adalah perintah Allah, Ibrahim tidak dapat mengelak dari-Nya.
Ibrahim menghadapi dua buah pilihan: mengikuti perasaan hatinya dengan “menyelamatkan” Ismail, atau mentaati perintah Allah dengan mengorbankannya. Ia harus memilih salah satu di antara keduanya. “Cinta” dan “kebenaran” berperang di dalam batinnya. Untuk memecahkan persoalan ini, Ibrahim mendialogkan dengan anaknya: “Wahai anakku aku bermimpi semalam bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?” Sang anak yang saleh menjawab “Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar (Qs. 37:102).
Dengan berat hati Ibrahim menimbang-nimbang, barulah ia yakin dan tipu daya setan yang memperdayakan tidak dapat menghancurkan keteguhan hatinya untuk menyembelih Ismail. Maka diajak putranya ke lembah Mina untuk melaksanakan perintah Allah. Dibaringkannya Ismail seperti layaknya seekor hewan yang hendak dipotong. Ketika pisau Ibrahim menyentuh leher Ismail, segeralah Allah berseru:
“Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
“Wahai Ibrahim engkau telah mentaati perintah-Ku, karena ketaatannmu aku ganti Ismail dengan seekor domba. Dan apa yang kuperintahkan adalah semata ujian yang berat bagimu, dan engkau termasuk orang yang muhsin (Qs.37:104-107). Inilah kisah Ibrahim dan putranya Ismail yang kemudian menjadi tradisi bagi kaum muslimin untuk menyembelih seekor domba (Qs.37:108):
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”
Makna Intrinsik
Kurban –yang secara harfiah berarti mendekatkan– dimaksudkan mendekatkan diri pada Tuhan dengan mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya mereka yang sengsara. Ibadah kurban –papar Jalaludin Rakhmat (1996)- mencerminkan pesan Islam: Anda mendekatkan saudara-saudara Anda yang kekurangan. Dengan berkurban berarti kita dekat dengan mereka yang fakir. Bila Anda memiliki kenikmatan, Anda disuruh berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila puasa mengajak Anda merasakan lapar seperti orang miskin. Maka ibadah kurban mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti Anda.
Dengan demikian, berkurban minimal memiliki dua makna, pertama, makna sosial. Untuk membangun makna ini Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadisnya: “…wa man lahu sa’atun, falam yudlahhi, falâ yaqrabanna mushallânâ, Barang siapa yang memiliki kesempatan rezeki untuk berkurban, kemudian ia tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” Dengan ini, Nabi ingin mendidik umatnya agar memiliki kepekaan terhadap sesamanya. Dengan berkurban berarti kita telah menumbuhkan solidaritas sosial.
Rasulullah mengajarkan kita untuk memiliki jiwa sosial. Dan hal ini telah dicontohkan sendiri oleh beliau, yaitu setiap hari raya Idul Adha beliau membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, berbulu putih bersih, bagus fisiknya dan tidak cacat. Kemudian setelah salat dan khutbah beliau menyembelih seekor seraya berkata “…hâzâ min muhammadin wa âli muhammadin, Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad. Lalu Nabi menyembelih seekor lagi dengan berkata: “…hâzâ min ummati muhammadin, Ya Allah terimalah ini dari umat Muhammad.” Rasulullah telah meyembelihkan seekor domba bagi umat Islam yang tidak mampu berkurban. Beginilah model Rasullullah memberikan suri tauladan bagi umatnya, yaitu agar memiliki Islam sosial bukan Islam individual.
Makna yang kedua, makna esensial, bahwa apa yang dikurbankan tidak boleh manusia tetapi sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang dan tidak mengenal hukum dan norma apapun (Shihab:1997: 415).
Sesungguhnya Ismail yang dikurbankan oleh ayahnya, kata Ali Syariati, hanya simbol dari setiap sesuatu yang melemahkan imanmu, setiap sesuatu yang menghalangi “perjalananmu”, setiap sesuatu yang membuat engkau memikirkan kepentinganmu sendiri, setiap sesuatu yang membuat engkau tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran, setiap sesuatu yang memaksa engkau untuk “melarikan diri”, setiap sesuatu yang membutakan matamu dan telingamu. Ismail hanya simbol dari seorang manusia, benda, pangkat, realita, kedudukan dan “kelemahan dirimu” (1997:101-2). Semua sifat dan kelemahan inilah yang harus dikorbankan, yang harus disembelih dan ditiadakan.
Ismail hanya simbol dari istrimu, pekerjaanmu, keahlianmu, kepuasan nafsu seksualmu, kekuasaanmu, dan lain sebagainya. Ismail hanya simbol dari setiap sesuatu yang merampas kekebasanmu dan menghalangimu, setiap sesuatu yang membuat engkau tidak dapat mendengar dan mengetahui kebenaran, setiap sesuatu yang menyebabkan engkau mengajukan alasan-alasan untuk menghindari tanggung jawab; setiap orang yang mendukung engkau untuk memperoleh dukunganmu di kemudian hari (op.cit.,h.120-1). Sifat-sifat demikian inilah yang harus dibunuh, ditiadakan, disembelih, dan dijadikan korban demi mencapai kurban (kedekatan) diri kepada Allah swt. Itu sebabnya Allah mengingatkan: “Daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai Allah; tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya (Qs.22:37):
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Keterangan:
Tulisan ini dimuat di Sinar Harapan, Senin, 9 Januari 2006 dengan judul “Makna Intrinsik Berkurban”.
Subscribe to:
Posts (Atom)