Tuesday, 2 August 2011

Menyantuni Anak Yatim-Piatu, Mengasihi Fakir-Miskin: Peduli Sosial Umat Islam


  Oleh: Ayang Utriza NWAY

1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3.  Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Al-Mâ’ûn/107:1-3)


Imam al-Baghawi menulis sebab-sebab turunnya (asbâb al-nuzûl) surat al-Mâ’ûn ini di dalam tafsirnya Lubâb al-Takwîl Fî Ma’âlim al-Tanzîl[1]. Menurut Muqâtil ayat ini turun kepada al-‘As Bin Wâ’il al-Sahmî, menurut al-Saddî, Muqâtil Bin Hayyân, dan Ibnu Kiysân, ayat ini turun kepada Walîd Bin Mughîrah. Menurut al-Dhahâk ayat ini turun kepada ‘Amrû Bin ‘A’iz al-Makhzumî, sementara menurut ‘Athâ’ dari Ibnu ‘Abbas kepada seseorang dari golongan munafik.Mereka tidak percaya kepada al-dîn. Mereka mendustakan al-dîn.

Lalu, apa arti al-dîn di dalam surat ini ?

Ulama berbeda-beda dalam mengartikan kata al-dîn di dalam ayat tersebut. Mereka mengartikan kata al-dîn sebagai hari perhitungan dan hukum Allah, sebagaimana ditulis oleh Jalâluddîn al-Suyûtî (w. 911 H.) dalam tafsirnya al-Durr al-Mansûr Fî al-Tafsîr bi al-Ma’sûr[2]:

  1. al-Hisâb, artinya perhitungan. Ini pendapat Ibnu Jarîr dan Ibnu Munzir dari Ibnu Jurayj. Imam al-Baghawi dan Imam al-Zamakhsyari juga mengartikan al-dîn sebagai hari perhitungan dan pembalasan. Maksud perhitungan adalah hari pembalasan di mana setiap perbuatan manusia akan dimintakan pertanggungjawabannya. Semua amal perbuatakan diperhitungkan. Amal baik dibalas dengan pahala dan surga, amal buruk dibalas dengan dosa dan neraka. Sehingga ayat tersebut dapat diartikan sebagai “Apakah engkau tahu orang yang mendustakan hari perhitungan?”
  2. Hukmullâh, artinya hukum-hukum Allah. Ini pendapat Ibnu Jarîr dan Ibnu Abî Hâtim dari Ibnu ‘Abbas. Hukum Allah adalah ketetapan Allah di dalam Alquran mengenai baik-buruk, halal-haram, anjuran-larangan dstnya. Jadi, ayat di atas dapat diartikan sebagai “Apakah engkau tahu orang yang mendustakan hukum Allah?”

Siapakah mereka yang mendustakan agama, memungkiri hari pembalasan dan menolak hukum Allah? Mereka yang:

  1. Yadu’ul yatîm, yaitu orang yang menghardik anak yatim. Kata Yadu’ di dalam ayat ini berarti mencegah hak-hak yatim yang seharusnya ia terima. Ini pendapat Thustî dari Ibnu ‘Abbas dan Sa’îd Bin Mansûr dari Muhammad Bin Ka’ab. Sementara menurut Abdurrazzâq, Ibnu Munzir, dan Ibnu Abî Hâtim dari Qatâdah kata yadu’ berarti yazlim, menzalimi. Maksudnya: menzalimi anak yatim. Tegasnya tidak memerhatikan mereka. Imam al-Zamakhsyarî (467-538 H.) di dalam tafsirnya al-Kasyâf[3] menambahkan adalah mereka yang meninggalkan hak-hak anak yatim-piatu, yaitu mereka yang menghardiknya secara keras dengan kasar, atau menyakiti, atau menolaknya dengan kasar dan cacian.
  2. La yahudlu ‘ala ta’âmil miskîn. Tidak menganjurkan memberi makan fakir-miskin. Imam al-Zamakhsyarî (467-538 H.) di dalam tafsirnya al-Kasyâf[4] menjelaskan lebih lanjut bahwa mereka tidak memberi makan fakir-miskin dan tidak menganjurkan keluarganya untuk memberi makan fakir miskin. Karena mereka tidak percaya akan hari perhitungan. Seandainya mereka percaya akan adanya hari perhitungan, pastilah mereka takut akan siksa Allah dan tidak mungkin melakukan hal-hal tersebut. Mereka yang menelantarkan anak yatim piatu dan tidak memberi makan fakir-miskin adalah tanda lemahnya iman dan lembeknya akidah dan keyakinan.

Surat al-Mâ’ûn memerintahkan kepada kita untuk peduli terhadap yatim-piatu dan fakir-miskin di lingkungan sekitar kita. Surat al-Ma’un mengajarkan kita tentang kepedulian sosial. Hal ini menyuruh kepada kita untuk membangun kesalehan sosial. Ketakwaan, surga, dan pahala tidak akan pernah digapai, jika kita hanya egois dan individualis: ingin masuk surga sendiri. Kesalehan individual tidak bermakna apa-apa, kalau lingkungan sekitarnya ditelantarkan. Surat al-Ma’un berpesan kepada kita: dekati, santuni, kasihi, beri makan, biayai sekolah, beri tempat tinggal, beri pakaian, cukupi kehidupan yatim-piatu dan fakir-miskin.

Hadis-hadis Nabi menggambarkan akan kemulian orang yang memerhatikan yatim-piatu.  Seorang muslim yang hanya mengasihi anak yatim-piatu saja, akan mendapat berbagai keberkahan. Abdullah Bin Abi Aufa berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Man masaha ‘ala ra’si yatîmin rahmatan katab Allah lahu bikulli sya’ratin marrat ‘alayha yaduhu hasanatn wa maha ‘anhu bikulli sya’ratan sayyiatan wa rafa’a bikulli sya’ratin darajatan.
Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim karena kasih sayang, maka Allah mencatat untuknya bagi tiap rambut yang diusap satu kebajikan, dan dihapus satu dosa, dan dinaikkan satu derajat.

Adapun bagi seorang muslim yang mengambil anak yatim-piatu lalu dirawatnya hingga ia mandiri, maka tiada balasannya kecuali surga. Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw. bersabda:

Man dlamma yatîman min bayni yatâma al-muslimîn ilâ ta’âmihi wa syarâbihi hattâ yughniyahu allâhu ta’âla, awjaba allâhu lahu al-jannah al-battah, illâ an ya’mala ‘amalan la yaghfiru allâhu lahu
Barang siapa yang memelihara seorang anak yatim dari kaum muslimin untuk menjamin makan minumnya sehingga ia cukup sendiri, maka Allah mewajibkan untuknya surga, kecuali jika ia berbuat perbuatan yang tidak diampuni oleh Allah.

Bahkan, bagi orang Islam yang memelihara anak yatim, yang menanggung semua biaya dan keperluan anak yatim, maka kedudukannya kelak di surga bersama Rasulullah, seperti jari telunjuk dan jari tengah. Zayd Bin Aslam berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

 Ana wa kâfilul yatîm al-muslim kahâtayni fil jannah wa jama’a bayna usbu’ayhi.
Aku dengan orang yang memelihara anak yatim di surga bagaikan dua jari ini, sambil menunjukkan kedua jari telunjuk dan jari tengah.

Bahkan, memerhatikan yatim-piatu adalah obat bagi hati kita yang keras, hati kita yang sakit. Jika kita terasa jauh dari Allah dan tidak lagi bersemangat akan ibadah kepadaNya, maka ini adalah tanda hati kita akan mati. Obatnya sangat mudah: santuni anak yatim-piatu.

Abu Darda ra. berkata bahwa ada seseorang datang kepada Nabi saw. mengeluh karena hatinya keras, lalu Nabi saw. bersabda:

In sarraka an yalîna qalbuka famsah bira’sil yatîmi wa at’imhu.
Jika engkau ingin lunak hatimu, maka usapkan kepala anak yatim dan beri makan kepadanya.

Jika Anda merasa jauh dari Allah, jika Anda merasa malas beribadah, jika Anda merasa paling hebat, jika Anda merasa sombong, jika Anda merasa paling benar sendiri, jika Anda merasa paling kaya, obatilah hati Anda dengan memerhatikan yatim-piatu dan fakir-miskin. Obatilah hati Anda dengan menyantuni yatim-piatu dan fakir-miskin. Merekalah dokter-dokter penyakit hati. Dan akhirnya, surga hanya bisa diraih dengan kepedulian kita terhadap yatim-piatu dan fakir miskin.
***

 Sumber Rujukan:

[1] Abû Muhammad al-Husayn Bin Mas’ud al-Baghawi, Lubâb al-Takwîl Fî Ma’âlim al-Tanzîl, Beirut:Dâr Ibn Hazm, 1423/2002, hlm.1438.

[2] Jalâluddîn al-Suyûtî, al-Durr al-Mansûr Fî al-Tafsîr bi al-Ma’sûr, ed. Syeikh Najdat Najîb, Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâs al-Islâmiyy, 1421/2001, jilid VIII, hlm. 584.

[3] Abû al-Qâsim Jârullâh Mahmûd Bin ‘Umar al-Zamakhsyarî al-Khawârizmî, al-Kasyâf, Beirut :Dâr al-Ma’rifah, 1423/2002, hlm.1223.

[4] Abû al-Qâsim Jârullâh Mahmûd Bin ‘Umar al-Zamakhsyarî al-Khawârizmî, al-Kasyâf, Beirut :Dâr al-Ma’rifah, 1423/2002, hlm.1223.

Pesan Moral Ibadah Puasa

Setiap ibadah di dalam Islam memiliki maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Ada pesan moral yang ingin diraih dari setiap kebajikan yang dilakukan. Salat bertujuan menjauhkan pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat bermaksud mengentaskan kemiskinan dan berpesan “Jangan Anda tumpuk kekayaan!” Haji mengandung pesan agar umat Islam menguasai ilmu pengetahuan (al-hajju arafah). Demikian juga dengan ibadah puasa. Ia memiliki pesan moral: perhatikan orang-orang miskin! Puasa mengajak Anda untuk merasakan lapar yang biasa dirasakan orang-orang papah dan miskin.
Pesan moral sesuai dengan misi kenabian, yaitu menyempurnakan akhlak. Rasulullah bersabda “Tidaklah aku diutus, kecuali untuk menyempurnakan kemulian akhlak.” Karena itu, tujuan ibadah dalam Islam adalah memperbaiki moralitas umatnya. Jika tujuan meningkatkan akhlak dari setiap ibadah tidak tercapai, maka sia-sialah ibadah tersebut. Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi masih sering menipu dan merampas hak orang lain. Tidak sedikit mereka yang berpuasa, tetapi masih korupsi dan menyusahkan orang lain. “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak bernilai apa-apa kecuali lapar dan haus,” demikian sabda Rasulullah.
       Hawa nafsumu adalah segala induk berhala, kata Jalaluddin Rumi. Puasa mengajak Anda menghancurkan berhala hawa nafsu ini. Puasa menyuruh Anda memperhatikan apa yang Anda makan. Jangan Anda makan sembarang makanan. Jangan makan dari uang yang berasal harta haram hasil dari tipu-tipu dan korupsi. Jangan jadikan perut Anda kuburan orang-orang miskin. Jangan biarkan dahaga Anda meraup keuntungan dengan cara menyengsarakan rakyat. Kekang keinginan Anda menindas orang lain. Puasa mengingatkan Anda untuk berhati-hati dengan apa yang Anda makan dan dari mana muasal uang yang Anda belanjakan itu.
            Puasa mengundang Anda agar dapat mengendalikan diri. Suatu ketika Rasulullah dilaporkan bahwa ada seorang perempuan yang selalu puasa di siang hari dan salat tahajud ketika malam, tapi ia sering menyakiti hati tetangganya. Rasul mengatakan bahwa tempat perempuan itu di neraka. Puasa tidak mempunyai arti apapun bagi perempuan itu, karena ia tidak menangkap pesan moral ibadah puasa: kendalikan dirimu! Puasa harus dapat mengendalikan apa yang keluar dari mulut Anda. Membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba, memberikan sumpah palsu dan berbohong adalah prilaku yang membatalkan puasa. Kata-kata yang keluar dari mereka yang berpuasa adalah kata-kata bijak dan bermanfaat.
Secara sosial, puasa mendorong Anda berfikir bahwa manusia di hadapan Allah adalah sama. Lihatlah waktu sahur dan berbuka! Tidak ada seorang pun yang bisa mengundurkan waktu sahur dan memajukan saat berbuka. Semua orang bersahur dan berbuka pada saat yang bersamaan. Tidak ada potongan waktu untuk Presiden misalnya, atau penambahan waktu puasa bagi rakyat jelata. Puasa mengembalikan citra diri sejati manusia bahwa mereka adalah sama di muka Tuhan. Ini adalah salah satu pesan moral puasa: persamaan.
Puasa menyuruh kita mengasihi orang miskin. Suatu ketika Nabi Musa meminta agar dapat bertemu dengan Allah. Allah menjawab “Jika kau ingin menjumpaiku, Aku berada di tengah orang-orang yang hancur hatinya, orang yang lemah, dan orang-orang miskin.” Puasa mengharuskan kita memperhatikan orang-orang tersebut. Anda akan menjumpai Allah di tengah korban semburan lumpur panas Lapindo, korban bencana alam banjir, longsor, gempa dan tsunami. Jika puasa tidak mengetuk hati Anda terhadap para korban itu, maka puasa Anda tidak memiliki nilai apapun; apalagi mereka yang mengakibatkan terjadinya bencana.  
            Puasa juga berarti menghadirkan Tuhan dalam diri kita. Kita tidak akan makan dan minum, walaupun haus dan lapar dan di tempat yang tak seorang pun melihat, karena kita tahu bahwa Allah mengawasi semua prilaku kita. Dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita, maka tujuan yang ingin dicapai dari puasa yaitu ketakwaan akan tercapai. Hasan al-Bashri menggambarkan seorang yang memiliki ketakwaan yang sebenar-benarnya adalah, antara lain: semakin berkuasa, semakin bijak dan tidak mengambil yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Mereka yang berkuasa, tapi tidak memperhatikan rakyat miskin, puasa mereka tidak mempunyai arti apa-apa.
Puasa, kata Nabi, adalah benteng, seperti benteng peperangan. Dengan puasa, kita harus dapat membentengi diri kita dari nafsu pribadi yang menyengsarakan banyak orang. Puasa mengajak Anda mengekang nafsu politik Anda. Kendalikan syahwat politik Anda. Tahan gejolak dalam diri Anda untuk berkuasa. Perbuatlah dan kerjakan sebaik mungkin di saat Anda sedang diberi amanah memimpin. Perhatikan orang miskin. Berikan kesejahteraan kepada rakyat. Berantas pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja. Ketakwaan harus mewujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. Inilah pesan moral puasa.

Islam dan Etos Kerja



Oleh : Ayang Utriza NWAY


Pandangan Islam tentang Kerja

Sesungguhnya kami Telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya (QS. al-Kahfi/18:7).

  • Bekerja adalah hak dan kewajiban setiap muslim
  • Islam menganjurkan bekerja.
  • Tidak dapat ditunaikan kebutuhan hidup kecuali dengan bekerja
  • Hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusia banyak bersantai
  • Bekerja adalah tugas dalam hidunya, maka tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran.
  • Pekerjaan adalah sarana mencapai rezeki dan kelayakan hidup.
  • Landasan pertama untuk membangun masyarakat Islam yang kokoh adalah manusia dapat bekerja sehingga dapat mencukupi kebutuhannya.
  • Tidak ada nilai hidup seseorang tanpa bekerja.
  • Para Nabi dan Rasul, selain sebagai pembawa risalah, mereka juga perintis berbagai lapangan pekerjaan.

Perpektif Alquran tentang Bekerja

Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS. Al-Jumuah/62:10).

Hai manusia, Sesungguhnya kamu Telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya (QS. Al-Insyiqâq/84:6).

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS. Al-Baqarah/2:267).

Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (QS. Al-Naba/78:11)


Pandangan Bekerja di dalam Hadis

Bekerja adalah kewajiban dan ibadah
Talabul halâl farîdatun ba’dal farîdah.
“Mencari rezeki yang halal adalah wajib setelah kewajiban yang lain.” (HR. Thabrani).

Pekerja seperti Nabi
Ma akala ahadun ta’âman qattun khayran min an ya’kula min ‘amali yadihi, wa inna nabiyyallahi dâwuda alayhis salâm kâna ya’kulu min ‘amali yadihi.
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil pekerjaannya sendiri. Nabi Allah Daud as. makan dari hasil kerjanya sendiri (HR. Bukhari).

Pekerja seperti Orang yang Berjihad
Innallâha yuhibbul ‘abdal muhtarifa, wa man kadda ‘ala ‘iyâlihi kâna kal mujâhidi fî sabîlillâh ‘azza wa jalla.
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang berkarya. Dan barang siapa yang bekerja keras untuk keluarganya, maka ia seperti pejuang di jalan Allah azza wa jalla.” (HR. Ahmad).

Dosa Pekerja Diampuni
Man amsâ kâllan min ‘amali yadihi amsâ maghfûran lahu.
“Barangsiapa di malam hari merasa letih karena bekerja dengan tangannya, maka di malam itu ia memperoleh ampunan Allah.” (HR. Ahmad)

Produktifitas (Tepat Waktu datang Ke Kantor)
Bâkirû fî talabir rizqi wal hawâ’ij li’annal ghuduwwa barakat wa najâh.
“Berpagi-pagilah untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhan, sebab padi itu membawa berkah dan kesuksesan. (HR. Thabrani).

Profesionalitas (Tekun dalam Bekerja)
Innallâha yuhibbu iza ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu.
“Sesungguhnya Allah senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan suatu pekerjaan yang dilakukan secara professional (bersungguh-sungguh).” (HR. al-Bayhaqi).

Integritas (Jujur dan Bertanggungjawab)
Wal khâdimu (al-‘âmilu) râ’in fî mali sayyidihi, wa huwa mas’ûlun ‘an ra’iyyatihi
“Dan pembantu (pekerja) adalah pemelihara harta tuannya, ia bertanggungjawab atas yang dipimpin.” (HR. Bukhari-Muslim)

Penghargaan (Upah sebagai Hak Pekerja)
A’tûl ajîra qabla an yajiffa araqahu
“Berilah upah pekerja, sebelum kering keringatnya.” (HR. Abu Ya’la)

Musuh Rasulullah di hari kiamat adalah orang yang mempekerjakan orang, tapi tidak dibayarkan gajinya.
Rajulun istakjara ajîran, fastawfâ minhu wa lam yuwaffihi ajrahu


(Sumber Dr. Abdul Hamid Mursi, al-Syakhsiyyat al-Muntajat, terj. Moh. Nurhakim, SDM yang Produktif Pendekatan Alquran dan Sains, Jakarta:Gema Insani Press, Cet. II, 1997.)

Mengenal Hati dan kabar Bumi



Oleh: Ayang Utriza NWAY


Di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, ketahuilah itulah hati. Jika baik hati itu, baiklah semua perbuatannya, jika rusak, maka rusaklah seluruh perbuatannya (HR. Bukhari dan Muslim).

Majelis taklim, ceramah keagamaan, bacaan yang bagus adalah di antara makanan hati. Hati butuh makanan. Makanannya adalah nasehat-nasehat agama.

Tanda-tanda hati yang mati kata Ibnu Athaillah al-Sukandari dalam al-Hikam, seperti yang dijelaskan oleh Ibn ‘Abbad al-Randi al-Nazafi dalam Syarhul Hikam (Maktabat Thaha Putra, Semarang, t.t., Juz I, hlm. 42), adalah:

  1. Adamul Huzni, tidak ada kesedihan sama sekali atas semua perbuatan buruk dan maksiyat yang dilakukan.
  2. Tarkun Nadmi, tidak ada penyesalan sama sekali atas semua perbuatan buruk dan maksiyat yang dilakukan.

Hati akan hidup dengan perbuatan baik dan amal ibadah. Sebuah khabar mengatakan «ma sarrathu hasanâtuhu wa sâ’athu sayyi’âtuhu fahuwa mukmin.» Barang siapa yang bahagia karena perbuatan baiknya, dan sedih karena perbuatan buruknya, maka ia adalah seorang beriman. Sebaliknya, jika seseorang berbuat buruk dan maksiyat, tetapi ia tidak sedih dan tidak menyesal, maka ia memiliki hati yang mati.

Suatu ketika Rasulullah kedatangan tamu seorang lelaki yang mengatakan bahwa ia telah telah berhari-hari melakukan perjalanan siang malam, menembus siang, menembus malam, tidak tidur, terus bergadang untuk bertemu Rasulullah.

Kemudian Rasulullah bertanya « Siapa namamu ? ».

Ia pun menjawab «Zaid al-Khayl» (Zaid si Kuda).

Mendengar namanya, maka Rasulullah ganti namanya menjadi «Zayd al-Khayr » (Zaid yang Baik).

Lalu Zayd berkata : « Aku datang ke sini untuk bertanya kepadamu apakah tanda orang-orang yang diinginkan atau dikehendaki Allah dan orang yang tidak diinginkan Allah.

Rasul menjawab Bakh, Bakh (hebat, hebat). « Apa yang kau lakukan setiap pagi », tanya Rasulullah.

Zaib menjawab setiap pagi aku mengerjakan sesuatu yang baik dan saya suka melakukan perbuatan yang baik. Jika saya telah mengerjakan perbuatan baik , saya rindu sekali kepada perbuatan baik itu. Dan, jika saya mengerjakan satu perbuatan baik, banyak atau sedikit, saya yakin akan ganjarannya.

Rasul menjawab « Itulah tanda orang yang Allah inginkan. » Artinya, Allah menginginkan semua hambanya mencintai kebaikan dan melakukan perbuatan baik itu. Pertama, ketika sudah melakukan perbuatan baik itu, ia rindu untuk melakukannya lagi. Kedua, ia yakin akan ganjaran Allah atas perbuatan baiknya, sedikit atau banyak. Dan sebaliknya, orang yang tidak disukai atau diinginkan Allah adalah mereka yang suka berbuat buruk dan maksiyat dan terus melakukannya.

Perbuatan Kita dan Kabar Bumi

Perbuatan baik dan buruk yang dilakukan di atas bumi, maka bumi menjadi saksinya. Allah swt. berfirman:

« Pada hari itu bumi menceritakan beritanya » (QS. al-Zalzalah/99 :4)

Imam al-Baghawi menjelaskan mengenai ayat ini dalam tafsirnya ma’âlim al-tanzîl (h.1427) bahwa Bumi akan menceritakan apa yang pernah terjadi dan dilakukan di atasnya.

Abu Hurayrah meriwayatkan sebuah hadis bahwa ketika membaca ayat ini Rasulullah bersabda «Tahukah kalian apa berita bumi itu ?

Sahabat menjawabnya «Allah dan Rasulnya yang maha tahu. »

Berita bumi adalah bahwa bumi akan bersaksi atas setiap orang dan umat tentang apa yang telah ia atau mereka lakukan di atas bumi. Dan, bumi akan berkata « Ia telah melakukan ini dan ini, pada hari ini dan itu…. Inilah kabar bumi, kata Rasulullah.

Jadi, bumi akan menjadi saksi atas semua perbuatan buruk kita yang pernah kita lakukan sekarang ini, semasa hidup kita.

Karena itu, peliharalah hati dan perbaikilah dengan akhlak yang baik kepada semua manusia, alam, dan Allah tentunya. Wallahu a’lam.

Demi Toleransi, Demi Kemajemukan : Tafsir atas QS. al-Kafirun/109 :1-6

Oleh: Ayang Utriza NWAY

1.  Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4.  Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."


Tafsir al-Qurtubi, juz 20, hlm. 225-229 (Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah)

  • Dari Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas meriwayatkan tentang turunnya surat ini. Ibnu Abbas berkata bahwa suatu hari «Walid Ibn al-Mugirah, Ash Ibn Wail, Aswad Ibn Abdul Mutallib, dan Umayyah Ibn Khalaf datang kepada Nabi saw. dan berkata ‘Wahai Muhammad, marilah, kita menyembah apa yang engkau sembah dan engkau menyembah apa yang kami sembah. Kita akan bekerjasama, antara kami dan engkau, dalam semua urusan. Jika ada kebaikan yang ada pada kami, berarti engkau sudah berperan dan memiliki bagian di dalamnya. Demikian juga jika ada kebaikan pada engkau berarti kami sudah berperan dan memiliki bagian di dalamnya. »
  • Riwayat Abu Salih dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa «Kaum musyrik Mekah itu berkata ‘Hai Muhammad, jika engkau telah menerima tuhan-tuhan kami, maka kami pasti mempercayaimu (beriman kepadamu).» Lalu turunlah malaikat Jibril menyampaikan surat al-Kafirun ini.
  • Usaha mereka gagal membujuk Nabi saw. Akhirnya mereka putus asa dan menyiksa Nabi dan para sahabatnya.
  • Kata al-kafirun di dalam surat itu dengan menggunakan alif dan lam menandakan sesuatu yang sudah pasti (le/la/les dalam bahasa Prancis atau the dalam bahasa Inggris, yé dalam bahasa Persia, das dalam bahasa Jerman atau des dalam bahasa Belanda).
  • Artinya, surat ini menunjuk pada orang-orang kafir yang sudah pasti, yaitu mereka yang bicara kepada Nabi dan yang pasti mati di dalam kekafiran sesuai kemahatahuan Allah atas nasib para orang-orang Kafir tersebut.
  • Al-Mawardi menjelaskan kata ‘al-kafirun’ adalah kata yang khusus dengan menggunakan lafaz umum. Yang dimaksud kafir di dalam ayat ini adalah orang-orang kafir tertentu. Karena ada orang kafir, tetapi setelah itu beriman dan menyembah Allah. Namun, ada juga yang tetap kafir dan mati atau terbunuh dalam kekafiran. Nah, orang kafir jenis terakhir inilah yang dimaksud ayat tersebut.
  • Menurut Qurtubi kata ‘al-kafirun’ di dalam ayat itu adalah penghinaan bagi orang-orang musyrik yang menolak dakwah Nabi dan beriman kepada Allah. Orang-orang kafir itu sendiri tidak senang dirinya dipanggil kafir.
  • Nampaknya kata kafir adalah kata yang amat menghina, merendahkan, dan sebutan tak bernilai saat itu. Oleh karena itu, Nabi pernah bersabda ‘Barang siapa mengatakan kafir kepada saudaranya, maka perkataan itu kembali kepadanya, maka dialah yang kafir.’
  • Ayat ke-6 surat itu : ada 2 pendapat. 1. Engkau sudah rela dengan agamamu, maka kami juga sudah rela dengan agama kami. Menurut sebagian ulama ayat ini sudah dihapus dengan ayat perang. 2. Maka ‘din’ di dalam ayat tersebut adalah ‘jazâ’ yang berarti imbalan atau balasan. Artinya, maka bagimu imbalan dan balasan dari apa yang engkau jalankan menurut keyakinanmu, dan bagiku imbalan dan balasan dari apa yang aku kerjakan.


Tafsir al-Tabari, juz 30, hlm. 337 (al-Ma’rifah:1990)

  • Berjumlah 6 ayat, turun di Mekah.
  • Kaum musyrik Mekah menolak dakwah Nabi.
  • Ada tawaran dari musyrik Mekah : mereka akan menyembah Allah selama setahun, dan sebaliknya Nabi akan menyembah tuhan kaum musyrik setahun yang akan datang. Terus bergantian seperti ini. 1 tahun menyembah Allah, 1 tahun menyembah berhala.
  • Mendengar tawaran dari musyrik Mekah ini, Allah menjawabnya dengan menurunkan surat al-Kafirun ini.
  • Allah berfirman kepada Nabi «Hai Muhammad katakanlah kepada kaum musyrik itu: hai orang-orang musyrik demi Allah, tidak akan aku menyembah tuhan dan berhala-berhala kalian, tidaklah kalian juga akan menyembah apa yang aku sembah sekarang. Tidaklah aku akan menyembah di masa yang akan datang apa yang kalian sembah pada masa lalu. Tidaklah kalian juga akan menyembah di masa yang akan datang apa yang aku sembah di masa sekarang dan lalu
  • Allah swt. sudah tahu bahwa kaum musyrik Mekah ini tidak akan beriman kepada Allah selama-lamanya. Apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi bertujuan: membuat kaum musyrik putus asa atas tawaran dan usaha-usaha mereka menghentikan dakwah Nabi. Di sisi lain, Nabi juga putus asa dengan sikap kaum musyrik yang keras menolak dakwah Nabi hingga akhirnya mereka berperang di Badar di mana kaum musyrik yang menentang Nabi banyak yang tewas.
  • Sebab turunnya surat ini menurut Ibnu Abbas «Kaum Quraisy Mekah berjanji memberikan harta sampai Nabi menjadi orang terkaya di Mekah dan akan menikahkan dengan perempuan mana pun yang ia inginkan. Mereka berkata ‘Wahai Muhammad inilah tawaran dari kami untukmu. Karena itu, berhentilah mencaci tuhan-tuhan kami dan jangan menjelek-jelekkan mereka lagi. Jika kamu tidak menerimanya. Maka ada satu tawaran lagi dari kami untukmu, maka antara kami dan kamu ada perdamaian. Apa itu? Kata Nabi saw. Kaum Quraisy Mekah menjawab ‘Engkau menyembah tuhan kami setahun, Lata dan Uzza, dan kami akan menyembah tuhanmu setahun.» «Nabi Menjawab, ya, tapi saya akan lihat dulu apa tanggapan Tuhan saya.» Lalu turunlah dari lawhul mahfuz surat al-Kafirun ini. Dan Allah juga berfirman «Apakah aku harus menyembah selain Allah wahai orang bodoh… ».


Tafsir al-Tahrîr wa al-Tanwîr, Tafsir Ibn Asyur juz 30, hlm. 580-584 (Tunis : Dâr Sahnûn, 1997)

  • Permulaan surat dengan kata «qul» :
  • Pertama, untuk menarik perhatian (lil-ihtimâm). Maksudnya agar umat manusia tahu bahwa surat dan ayat ini benar-benar diturunkan dari Allah dan benar-benar ternas (tercatat) bahwa Allah berfirman dengan kata kerja ‘menyampaikan’ yaitu qul, katakanlah. Artinya, sampaikanlah…katakanlah…
  • Kedua, untuk memanggil (lin-nidâ’). Dengan perkataan pertama yang keluar ‘qul’, katakanlah, maka kata itu bertujuan mengajak perhatian para pendengar dan pembacanya tentang apa yang akan disampaikan kemudian.
  • Pembahasan antara ayat 1 hingga 5, Imam Ibnu Asyur menjelaskannya secara kebahasaan untuk menunjukkan ketauhidan yang amat mendalam di dalam surat ini.
  • Ayat ke-6 : ada perbedaan cara baca ‘liya’ yang berarti bagiku.
  • Ada yang memfathahkan, jadi ‘liya’, yaitu para imam ahli al-Quran: Nafi dan al-Bazzi dari Ibnu Kasir dan Hisyam dari Ibnu Amir dan Hafs dari Ashim.
  • Dan ada juga yang mensukunkan, jadi ‘li’, yaitu Qunbul dari Ibnu Kasir, Ibnu Zakwan dari Ibnu Amir, Abu Bakar dari Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Abu Ja’far, Ya’qub, dan para ulama khalaf.
  • Perbedaan cara membaca mempengaruhi hukum.


Sumber Rujukan :

Imam Qurtubi , Tafsir al-Qurtubi, juz 20, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah.
Imam Tabari, Tafsir al-Tabari, juz 30, al-Ma’rifah : 1990.
Muhammad Tahir Ibn Asyur, Tafsir al-Tahrîr wa al-Tanwîr, juz 30, Tunis : Dâr Sahnûn, 1997.

Monday, 1 August 2011

Jihad dan Bom Bunuh Diri

Oleh: Ayang Utriza NWAY


Islam  Radikal akan terus eksis sepanjang pemahaman agama yang kaku dan dogmatis masih dominan di tengah umat Islam. Islam Radikal akan tetap menjadi ancaman sosial dan keamanan serius selagi tafsir terhadap bom bunuh diri masih dianggap syahid yang imbalannya surga.

Kasus pelaku bom di Indonesia adalah bukti yang sangat kuat akan ideologi Islam Radikal, yaitu bahwa bom bunuh diri adalah jihad yang imbalannya surga. Para pelaku teror bom selalu menyatakan berjihad karena ingin masuk surga. Namun, bisakah dikatakan pelaku bom bunuh diri di Indonesia sedang berjihad, dan jika mati dikategorikan sebagai syahid?

Jihad
Jihad adalah perang bersenjata di jalan Allah untuk melawan orang-orang kafir (al-Syarbînî/II :770). Berangkat dari definisi ini, pertama, jihad dapat dilaksanakan jika ada musuh yang harus dilawan dan ditaklukkan. Kedua, jihad mengandaikan ada 2 wilayah dalam keadaan perang terus-menerus, yaitu antara wilayah Islam (dâr al-Islâm) dan wilayah musuh (dâr al-harb). Ketiga, jihad menuntut pengorbanan jiwa-raga.  Makna jihad seperti ini hanya terjadi pada masa Nabi saw. dan imperium Islam. Jihad saat itu menjadi alat strategi ekspansi politik, sosial dan agama. Jihad bertujuan menaklukkan dan mengislamkan dunia, serta menerapkan hukum Islam di dalamnya.

Pada masa kini, konsep jihad seperti di atas sama sekali tidak kontekstual, apalagi di Indonesia, sebab: pertama, Indonesia adalah wilayah kesatuan utuh, merdeka dan aman serta tidak terlibat perang dengan negara mana pun yang dapat dikategorikan sebagai musuh. Kedua, di Indonesia tidak ada wilayah Islam dan non-Islam, karena pembagian provinsi di Indonesia tidak berdasarkan agama.

Ketiga, berjihad di Indonesia saat ini bukan dengan jiwa, tapi dengan harta. Di saat rakyat Indonesia sulit seperti sekarang, maka dibutuhkan orang yang mau berjihad dengan harta untuk membantu kaum fakir-miskin. Alquran menempatkan mereka yang berjihad dengan harta lebih tinggi ketimbang berjihad dengan jiwa (QS.61:11).

Keempat, makna hadis Nabi saw. «Berjihadlah terhadap orang-orang kafir dengan dirimu, hartamu dan lisanmu.» ialah bahwa berjihad dengan diri tidak berarti menumpahkan darah dan menjadi syahid. Tetapi jihad dengan diri berarti mensucikan dan membersihkan jiwa (al-Syarbâsî/III:337). Dan mempersenjatai jiwa, bukan dengan pedang, tapi dengan perbuatan yang baik, bermanfaat, ilmu pengetahuan, keimanan dan keyakinan yang tulus.

Oleh karena itu, jihad di Indonesia bukan membawa senjata dan masuk ke dalam medan pertempuran, apalagi membom orang-orang yang tak bersalah. Jihad yang sesungguhnya ialah berjuang menegakkan kebenaran untuk menciptakan masyarakat dan negara yang demokratis, adil, sejahtera, manusiawi dan tidak korup.

Syahid dan Surga
Jihad berkait erat dengan syahid. Di dalam Islam, syahid adalah orang yang memberikan kesaksian atas keimanannya dengan cara berjihad, terlibat dalam kekerasan. Syahid, dalam istilah hukum Islam, berarti saksi. Kesaksian ini yang menghubungkan dengan perang suci. Jika dia mati dalam berjuang (jihad), maka dia menjadi saksi (syahid) (Delcambre&Bosshard (et.alii);2004:72-4). Mengapa orang beriman berharap mati menjadi syahid?.

Alquran memberikan ganjaran yang luar biasa bagi para syahid. Mereka menjual kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat yang penuh dengan kenikmatan sebagai imbalannya (QS.4:74). Allah berjanji akan menghapus semua dosa syahid dan bisa langsung masuk surga tanpa perhitungan (QS.3:195). Menurut hadis Nabi, dia akan diberi 70 bidadari surga. Imbalan ini menarik orang mukmin untuk mati, sebab, menurut mereka, surga hanya dapat ‘dibeli’ oleh pengorbanan jiwa-raga (syahid). Islam pun menjadi agama yang menjanjikan kenikmatan ragawi setelah kematian.

Orang mati syahid dengan mengharapkan kenikmatan ragawi seperti itu, tak ubahnya seperti pedagang. Imam Ali Ibn Abi Thalib berkata “ibadah pedagang adalah orang yang beribadah karena mengharapkan surga.” Pada titik ini, tak ada nilai seorang syahid. Dia mati hanya untuk ambisinya: keselamatan dan kenikmatan individual. Tetapi dia telah meninggalkan penderitaan luar biasa bagi orang hidup.

Syahid, menurut Umar Ibn Khattab, adalah orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya dan hanya dengan-Nya ia merasa cukup (al-syahîd man ihtasaba nafsahu ‘ala Allâhi) (al-Zarqânî Syarh al-Muwattha’/III:48). Orang yang mensucikan niat untuk hidup hanya untuk Allah, dialah syahid yang sesungguhnya. Orang yang mati dalam keadaan melaksanakan shalat, puasa, haji, membaca Alquran, dibunuh oleh pemerintahan yang zalim dan tiranik, mati karena penyakit yang diderita atau ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya adalah para syahid.

Jika demikian, jamaah haji Indonesia yang meninggal di Saudi Arabi adalah para syahid. Para aktivis mahasiswa yang mati diculik, korban tragedi 13-14 Mei 1997, Semanggi I dan II 1998, korban tragedi Tanjung Priok 1984, Haur Koneng Cirebon, Warsidi Lampung, korban 30 September 1965 dan semua korban kekerasan negara adalah para syahid. Korban pemboman Hotel Marriot, Kuningan dan Bom Bali I dan II adalah para syahid. Mereka yang mati berjuang demi tegaknya HAM dan demokrasi di Indonesia adalah para syahid; karenanya Marsinah dan Munir adalah syahid.

Bom Bunuh Diri
Lalu apakah pelaku bom bunuh diri itu syahid? Mereka yang melakukan bom bunuh diri bukanlah syahid, sebab menghancurkan diri sendiri diharamkan Allah swt. (QS.2:195). Menumpahkan darah dengan cara membom adalah cara yang tidak benar. Jangankan membom, menakut-nakuti orang lain saja hukumnya haram (HR. Thabrani dan al-Bazzâr). Pembom menganggap halal membunuh orang tak bersalah. Padahal, membunuh satu orang saja tanpa alasan maka seakan-akan orang itu telah membunuh manusia seluruhnya (QS.5:32).

Oleh karena itu, sangat mengherankan ada orang atau kelompok yang beragama Islam dan berbicara atas nama Islam, lalu menyatakan ingin mati syahid, tapi justeru mereka membunuh orang lain. Jika demikian, mereka telah mengotori Islam dengan kejahatan yang mereka lakukan. Mereka merusak wajah Islam dengan kemungkaran. Sang pengebom, walaupun berniat syahid, telah sesat dan salah jalan. Wallahu a’lam

Marhaban Ya Ramadhan : Menyambut Datangnya Bulan Puasa


Oleh : Ust. Ayang Utriza NWAY, S.Ag., DEA.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

“Iza ja’a ramadhanu futihat abwabu al-jannati wa ghulliqat abwabu al-nari wa suffidat al-syayathin”

“Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu surga dan ditutup pintu neraka dan diikat para syaitan”
(HR. Muslim dari Abu Hurayrah [Sahih Muslim VII:187])

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh hikmah. Datangnya bulan Ramadan sudah membawa keberkahan sendiri bagi umat Nabi Muhammad sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. al-Qadli ‘Iyadl menjelaskan bahwa hadis di atas menggambarkan betapa mulianya bulan Ramadhan. Oleh karena itu, hendaklah kita menghormati bulan puasa ini.

Ketika Ramadan masuk maka pintu surga dibuka dan setan diikat. “Futihat abwâbul jannah” “Dibuka pintu surga” bermakna banyaknya ganjaran dan pahala yang disediakan di bulan Ramadan dan dibukanya pintu maaf. Allah membuka pintu surga untuk para hambaNya agar dapat melakukan ketaatan dan kebajikan sebanyak mungkin di mana keistimewaan bulan ini tidak dapat dijumpai di bulan lain. “Wa ghulliqat al-syayâtîn” “Diikat setan”, maksudnya agar kaum muslimin selamat dan terhindar dari pengaruh dan godaan setan dan terhindar dari melakukan maksiyat sehingga menjadi sebab masuk ke dalam surga Allah[1]. Artinya apapun yang kita lakukan pada bulan tersebut baik atau buruk adalah muncul dari keinginan diri kita sendiri. Kita harus dapat mengendalikan diri sehingga menghasilkan manusia bertakwa.

Setelah itu, dalam sebuah hadis kudsi, bahwa pada malam pertama bulan Ramadhan Allah menyuruh malaikat Ridwan untuk membuka pintu surga bagi umat Nabi Muhammad saw. yang berpuasa, dan juga menyuruh malaikat Malik agar menutup pintu neraka bagi umat Rasulullah yang berpuasa. Allah juga menyuruh malaikat Jibril untuk mengikat para setan dan membuangnya ke laut agar tidak mengganggu umat Nabi saw. yang berpuasa.

Kemudian, pada setiap malam bulan Ramadhan, Allah berfirman hingga tiga kali “Hal min sâ’ilin fa’u‘tîhi su’lahu, hal min tâ’ibin fa’atûbu ‘alayhi hal min mustaghfirin fa’aghfiru lahu” (Tak ada seorang pun yang berdoa, kecuali pasti aku kabulkan, tidak ada seorang pun yang bertaubat, kecuali pasti aku terima taubatnya, tak ada seorang pun yang meminta ampun kepadaku, kecuali pasti aku ampuni).[2] Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan sebaik mungkin setiap malam bulan Ramadan ini dengan salat tarawih, tadarus Alquran dan berdoa. Bulan puasa ini adalah waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa-doa kita didengar oleh Allah dan pasti Allah kabulkan. Jangan sia-siakan kesempatan ini.

Jika bulan Ramadan ini dijalani dengan penuh kesungguhan, yaitu dengan sepenuh keimanan kita dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.”Man shâma ramadhâna îmânan wa ihtisâban ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi” (Barang siapa  yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan ganjaran, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu, (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i dan Abu Dawud). Allah berjanji bahwa Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa kita sebesar apapun dosa kita, kecuali syirik, dengan syarat setelah bulan Ramadan ini kita tidak lagi melakukan kesalahan dan maksiyat yang pernah kita lakukan sebelum bulan Ramadan.

Keistimewaan Puasa
Puasa adalah amal ibadah yang memiliki nilai khusus. Keistimewaan puasa terletak pada kenyataan bahwa hanya puasalah amal ibadah yang Allah sendiri akan membalasnya. Sebagaimana firman Allah dalam hadis kudsi “Kullu ‘amalibni âdama lahu illa al-sawmu fa’innahu li wa anâ ajzî bihi’, (Setiap  perbuatan anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan mengganjarnya (HR. Muslim). Allah yang akan memberi pahala langsung kepada kita atas puasa, karena hanya Allah jualah yang maha mengerti dan mengetahui siapa yang melakukan puasa dengan sebenar-benarnya. Kita bisa menipu manusia, tapi kita tidak bisa berkelit dari tatapan Allah.

Tingkatan Puasa
Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali menjelaskan dalam karya monumentalnya Ihyâ ‘Ulûmiddîn bahwa ada tiga tingkatan puasa :
  1. Shawm al-‘umum, yaitu mereka yang hanya menahan lapar, haus, dan jima.
  2. Shawm al-khusus, yaitu mereka yang menjaga telinga, mata, mulut, tangan, kaki dan seluruh badan dari perbuatan dosa.
  3. Shawm khusus al-khusus, yaitu puasa hati dari keinginan-keinginan rendah dan pikiran-pikiran duniawi dan menjaga hati dan pikiran dari berfikir selain Allah.
Lalu di manakah tingkatan kita? Kita sendiri yang dapat menjawabnya. Mungkin saya sendiri pada tingkat yang pertama yaitu puasa orang-orang umum. Puasa orang yang sekadar menggugurkan kewajiban. Kita berpuasa, tetapi tetap melakukan aneka ragam dosa. Kita berbohong, membicarakan keburukan orang lain dstnya.

Rasulullah bersabda « khamsun yuftirna al-shâ’ima : al-kizbu, wa al-ghîbah, wa al-namimah, wa al-yamîn al-kâzibah wa al-nazhru bisyahwatin, artinya : «Lima hal yang membatalkan orang puasa: bohong, gibah, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan nafsu)[3]. Jika ditelaah hadis ini nampak bahwa empat hal yang dapat membatalkan puasa disebabkan oleh mulut dan satu oleh mata.

Oleh karena itu berpuasa bukan saja menahan lapar dan haus, tetapi juga harus mempuasakan mulut dan mata. Jika tidak, maka puasa kita akan sia-sia saja. Puasa seharusnya dapat membawa kepada pada puasa mulut, dapat mengendalikan lidah. Muhammad al-Rahibi, seorang sufi besar mengatakan «man adkhala bi bathnihi fudlula al-tha’ami kharaja min lisanihi fudlûlu al-kalami» ‘Siapa yang banyak memasukkan makanan ke dalam perutnya, maka akan banyak mengeluarkan omongan dari mulutnya[4].’

Orang yang berpuasa yang telah menahan perutnya dari lapar, seyogyanya dapat mengendalikan mulutnya. Jika tidak, maka dapat dipastikan puasanya tidak memiliki arti apa-apa. Malik Ibn Dinar, seorang sufi besar mengatakan ‘Kalâmun la ya’nihi yuqsi al-qalba wa yuhinu al-badan wa yu’assira al-rizqa’ «Pembicaraan yang tidak berguna akan membuat hati mati, melemahkan badan, dan menutup pintu rezeki)[5]. Oleh karena itu, kita harus menjaga mulut dan mata kita dalam berpuasa. Jika tidak, benar kata Nabi saw. ‘kam min shâ’imin laysa lahu min shawmihi illa al-jû’i wa al-‘atsy’ «Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada nilai puasanya, kecuali lapar dan haus » (HR. Nasa’i dan Ibn Majah)

Penutup
Dengan uraian di atas menjadi jelas bahwa datangnya bulan Ramadan benar-benar membawa berkah bagi umat Islam secara ekonomi, sosial dan spiritual. Secara ekonomi, semua pedagang apapun dapat meraih laba yang lebih besar ketimbang bulan lain. Semua orang kecipratan rezeki Ramadan. Secara sosial, jalinan antarmasyarakat yang tadinya renggang karena kesibukan kita sehari-hari selama 11 bulan, dengan adanya bulan Ramadan, ikatan dan jalinan sosial tadi kembali menguat, dengan adanya acara tarawih bersama, tadarus dan buka puasa bersama. Secara spiritual, kita dapat meraih pahala sebanyak mungkin selama bulan Ramadan. Kita mendekatkan diri kepada Allah sepanjang bulan puasa ini. Ramadan menjadi wahana melatih jiwa agar menjadi jiwa-jiwa yang mutmainnah, sehingga tujuan puasa tercapai yaitu manusia bertakwa.


[1] Imam Muslim, Sahih Muslim Bisyarh al-Nawawi, XVIII vols. Vol. VII Beirut : Dar Ihya al-Turas al-‘Arabiyy, tanpa tahun, cet. IV, hlm. 188.

[2] Abu Layst dari Ibn ‘Abbas, lihat Al-Samarqandi, op.cit., h.117-8

[3] al-Ghazali, Abu Hamid, Mukhtashar Ihya Ulumuddin, Beirut : Dar al-Fikr, 1993/1414, hlm. 61

[4] al-Sya’rani, Abd al-Wahhab. Tanbih al-Mughtarin. Semarang : Maktabat Thaha Putra, tanpa tahun, hlm. 83

[5] Al-Sya’rani, op.cit., h.84