Saturday, 22 February 2014

Jumat setelah Asar: Waktu Allah Mendengar Doa Kita


Oleh: Ayang Utriza Yakin, DEA., PhD

Allah swt. berfirman di dalam QS. Al-Buruj:

Wassamâ’i zatil burûj, wal yawmil maw’ud, wa syâhidiw wa masyhûd.” Rasulullah saw. menjelaskan apa yang dimaksud ayat ke-2 dan ke-3 di dalam surat al-Buruj tersebut. Beliau bersabda bahwa yang dimaksud dg yawm al-maw’ud (hari yang dijanjikan) adalah hari kiamat, syâhid (saksi) artinya hari Jumat dan masyhud (yang disaksikan) adalah hari Arafah (HR. al-Bayhaqi di dalam kitab Fadhâ’il al-Awqât, h. 465). 

Subhanallah, ternyata hari Jumat yang selalu kita lewati menjadi saksi bagi kita nanti di hari kiamat: apa yang kita lakukan di hari Jumat. Seandainya kita melakukan hal-hal baik dan terpuji, sebagaimana yang telah diperintahkan, seperti salat Jumat, dan kebaikan-kebaikan lainnya, seperti berinfak, bersedekah, membaca Alquran, berbuat kepada tetangga, membersihkan jalanan dan saluran air, menanam dan merawat pohon, membantu kaum duafa dan mustadafin, tepat waktu, jujur dalam bekerja, dll., maka hari Jumat akan bersaksi di hadapan Allah swt. akan kebaikan yang telah kita lakukan. Sebaliknya, jika kita melakukan hal-hal tidak terpuji yang melanggar perintah Allah swt. dan Rasulullah saw., maka hari Jumat pun akan menyaksikan perbuatan maksiat kita.

Selain menjadi saksi, hari Jumat merupakan hari penghapus dosa-dosa kita. Rasulullah saw. bersabda “Salat 5 waktu dan dari salat Jumat ke salat Jumat yang lain akan menjadi penghapus semua doa di antara kedua Jumat itu,” di dalam riwayat lain ada tambahan “selama menghindari dosa-dosa besar” (HR. Bayhaqi dari Abu Hurayrah r.a.). Oleh karena itu, mari kita jadikan Jumat ini sebagai hari perenungan dan penambah kebajikan bagi kita. Kita jadikan Jumat ini sebagai hari khusus beribadah, bukan saja ibadah mahdlah, tetapi juga ibadah sosial: ibadah yang memerhatikan lingkungan sekitar kita dengan peduli terhadap gerak kehidupan tetangga, masyarakat, dan Negara. Kita ikut andil dan berperanserta dalam kegiatan-kegiatan yang membaikkan semua orang.

Bahkan, Allah swt. menjadikan hari Jumat menjadi hari terkabulkannya doa, hari di mana Allah akan menerima semua permintaan hamba-hamba-Nya. Rasulullah bersabda “Lâ yûjadu abdun muslimun yas’alullâha illâ âtâhullâhu iyyâhu, faltamisûhâ âkhiros sâ’ati ba’adal ‘ashri.” “Tidaklah dijumpai seorang hamba muslim berdoa, kecuali Allah akan kabulkan permintaanya, maka peganglah erat-erat akhir waktu hari Jumat, yaitu setelah Asar.” 

Allahu akbar, mungkin selama ini kita belum tahu bahwa setelah Asar hingga menjelang magrib atau terbenam matahari adalah waktu mustajab. Ini adalah kesempatan baik untuk kita saat di hari-hari lain tidak mendapat jaminan terkabulkannya doa, tapi justeru di akhir hari Jumat adalah waktu mustajab. Marilah para pembaca untuk banyak memohon dan meminta segala hal yang diinginkan, nanti, setelah Asar, sebanyak mungkin kepada Allah swt.

Kita tidak tahu umur hingga kapan Allah masih memberikan kepada kita kehidupan. Beberapa hari lalu, di antara saudara atau teman kita sudah berpulang ke Rahmatullah, telah meninggalkan kita semua untuk kembali kepada Allah swt. selama-lamanya. Ya Allah, betapa banyak sudah saudara, keluarga, dan teman kita yang telah meninggal, sementara kita masih hidup. Ini adalah kesempatan baik untuk menambah perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela.

Akhlak Rasulullah saw. terhadap Pembantu, Istri dan Orang Sekitarnya



Oleh: Ayang Utriza Yakin, DEA., PhD
Rasanya, tidak pernah habis pelajaran yang dapat dipetik dari Rasulullah saw. dari berbagai segi kehidupannya. Hal ini ini sendiri memang telah difirmankan oleh Allah swt. di dalam Alquran, surat al-Ahzab: Bismillahirrahmanirrahim “Laqad kâna lakum fî rasûlillâh uswatun hasanatun…., artinya telah terdapat di dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian.” 

Bahkan, Siti Aisyah ra. saat ditanya oleh para sahabat bagaimana akhlak Rasulullah saw., beliau menjawab “Kâna khuluqu Rasûlillah saw. al-Quran”, artinya “Akhlak Rasulullah adalah al-Quran”. Apa maksudnya? Siti Aisyah bertanya “a taqra’ûna sûrat al-mu’minîn?” Apakah kalian membaca Surat al-Mukminin? Sahabat menjawab: “Ya.” “Baca,” kata siti Aisyah. “Qad aflahal mu’minunal lazina fi salatihim khasyi’un, wallazina hum anil lagwi mu’ridûn, wallazina hum lizakati fa’ilun, wallazina hum lifurujiihum hafizun….” Sungguh beruntung orang-orang mukmin yang salatnya khusyuk, yang menghindari dari perbuatan lagwu (sia-sia dan tak bermanfaat), yang menunaikan zakat, dan yang menjaga kesucian mereka…” Jadi, Rasulullah saw. adalah orang yang : pelaksana salat yang khusyuk, tidak melakukan perbuatan tidak berguna, penunai zakat, dan penjaga kesucian dirinya. Subhanallah, akhlak Rasulullah saw. ini.

Pada kesempatan yang singkat ini, kita akan mempelajari akhlak Rasulullah saw. langsung dari orang terdekat beliau, yang bukan keluarga beliau, sehingga penilaian terhadap pribadi Rasulullah lebih apa adanya (obyektif). Kesaksian ini adalah kesaksian tentang sikap Beliau kepada istri, pembantu atau pekerja kita, dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kami akan sampaikan 2 hadis yang bersumber dari Anas Ibn Malik ra. sebagaimana termaktub di dalam kitab kumpulan hadis mengenai akhlak Nabi Muhammad saw. berjudul “Akhlaq al-Nabiyy” karangan Abû al-Syaikh al-Isbahani (369 H.)

Dari Anas Ibn Malik, ia berkata: “laqad khaddamtu Rasulullahi saw. asyara sinina, fawallahi mâ qâla lî uffin qattun, wa lam yaqul lisyay’in fa’altuhu: lima fa’alta, kazâ wa kazâ, wa lâ lisyay’in lam af’alhu: illâ fa’altu kazâ “ dan di dalam riwayat lain Anas juga berkata: “lam yadribni qattun, wa lam yantahirni qattun, wa lam ya’basu wajhuhu alayya yawman qattun.”

Artinya “Aku telah melayani (menjadi pembantu) Rasulullah selamat 10 tahun, dan demi Allah (selama itu), ia belum pernah berkata kepadaku “Ah” sama sekali. Ia juga belum pernah berkata atas apa yang telah aku lakukan: ‘mengapa kau melakukan ini dan itu’. Ia pun belum pernah berkata atas apa yang belum aku lakukan ‘ada baiknya kau laukan ini?’”. Selanjutnya Rasulullah pun “belum pernah memukulku sama sekali, belum pernah membentakku sama sekali, belum pernah bermuka masam kepadaku, walau sehari sekalipun.” Allahu akbar, kesaksian yang berharga bagi kita untuk menjadi cermin pribadi.

Jadi, berdasarkan hadis tersebut, Rasulullah saw. adalah pribadi yang:
1  Tidak pernah mengatakan ‘ah.’ Ini artinya apa, Rasulullah tidak pernah menghina orang lain, meremehkan pekerjaan orang lain, menganggap rendah apa yang dikerjakan. Coba kalau dibandingkan dengan kita, astagfirullahalazim. Berapa ribu orang yang telah kita remehkan, hinakan, rendahkan pekerjaannya, harga dirinya, usahanya.

2.     Rasulullah tidak pernah bertanya tentang apa yang telah dikerjakan: “kenapa kamu melakukan ini dan itu?” Rasulullah menganggap orang lain itu dewasa dan bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan. Nabi itu tidak usil dan iseng ingin tahu urusan orang lain. “Kenapa kamu mengerjakan ini, kenapa kamu tidak pernah mengerjakan itu…” Rasulullah mengajarkan umatnya untuk bersikap dewasa: jangan usil dengan urusan orang lain. Coba bandingkan dengan kita: kita ingin tahu urusan orang lain. Kita ingin tahu dapur rumah tangga orang lain. Kita turut campur urusan tetangga. Kita turut campur hal-hal yang bukan menjadi urusan kita. Kita senang sibuk dengan urusan orang lain, padahal urusan diri sendiri belum selesai dan masih banyak yang harus dikerjakan.

3.     Rasulullah tidak pernah menanyakan tentang apa yang akan dikerjakan: “kamu mau apa, kamu akan melakukan apa?” Ini artinya, Rasulullah memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk melakukan apa yang diinginkan, tentu bertanggungjawab. Coba bandingkan, kita selalu menginginkan orang lain melakukan apa yang kita inginkan.

4.    Rasulullah saw. tidak pernah  memukul. Ia tidak pernah memukul pembantu atau pekerja. Bahkan, Rasulullah tidak pernah memukul istri dan siapa pun. Aisyah ra. berkata: “mâ daraba al-nabiyyu saw. imra’atan qattun, wa la daraba khâdiman qattun, wa la daraba biyadihi qattun.” Artinya, Rasulullah tidak pernah memukul perempuan (istri), tidak pernah memukul pembantu (pekerja), dan tidak pernah memukul siapapun dg tangannya.” Bandingkan dengan kita, berapa kali tangan ini sudah melayang ke istri, pembantu, anak, dan orang-orang terdekat kita… Na’uzubillah. Katanya, kita mengaku umat Nabi Muhammad saw., tetapi kenapa kita suka kekerasan? Nabi pecinta damai. Nabi tidak suka kekerasan. Berapa orang yang telah kita sakiti dengan tangan kita? Astagfirullah…

5.     Rasulullah tidak pernah membentak. Allahu akbar. Selama 10 tahun, Anas Ibn Malik tidak pernah dibentak saat bekerja melayani/membantu Rasulullah saw. Bandingkan dengan kita, berapa ribu kali kita membentak anak, istri, orang tua, pembantu, pekerja, tetangga, teman dan orang-orang di sekeliling kita? Berapa?

6.     Rasulullah tidak pernah bermuka masa kepada siapapun. Nabi tidak pernah “nyemberutin” orang. Sekali Nabi bermuka masam, langsung ditegur oleh Allah swt. Itulah sebab-musabab diturunkannya surat Abasa (bermuka masam). Saat Rasulullah bermuka masam kepada Ibnu Maktum, karena ia ingin mengikuti pengajian kalangan bangsawan suku Quraisy. Akibat perbuatan ini, Allah langsung menegurnya. Jadi, Rasulullah hampir tidak pernah bermuka masam kepada siapapun. Nabi tidak pernah cemberut. Bandingkan dengan kita. Berapa ribu kali kita cemberutin istri kita, suami kita, anak kita, orang tua kita, teman kita, dan orang-orang di sekeliling kita.

Dari uraian di atas, jelaslah Rasulullah adalah contoh dan teladan agung bagi kita. Ia panutan kehidupan. Kita belajar dari hadis yang diriwayatkan Anas Ibn Malik bahwa Rasulullah tidak pernah: 1. berkata “ah.”, 2. Tanya apa yang telah dilakukan, 3. Yang akan dilakukan, 4. Memukul, 5. Membentak, dan 6. Bermuka masam. Marilah kita meneladani pribadi agung ini dan mengejawantahkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a'lam.

Akhlak Kepemimpinan Rasulullah saw.



Oleh: Ust. Ayang Utriza Yakin, DEA., PhD.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan risalah singkat mengenai “Akhlak Kepemimpinan Rasulullah saw.” Kepemimpinan di sini berarti kepemimpinan apapun dan dalam tingkat apapun: pemimpin dalam rumah tangga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten dstnya., atau paling tidak pemimpin bagi diri sendiri.

Ada satu ayat di dalam Alquran yang patut kita jadikan sandaran sebagai dasar kepemimpinan di dalam Islam, yaitu QS. Al-Shâd/38:26. Bismillahirrahmanirrahim. Yâ dâwûdu innâ ja’alnâka khaliîfatan fil ardli fahkum baynan nâsi bil ‘haqqi, wa lâ tattibi’il hawâ, fayudillaka ‘an sabîlillâhi, innallazîna yadillûna ‘an sabîlillâhi lahum ‘azâbun syadîdun bima nasû yawmal hisâb.” Artinya, “Wahai Dawud, telah kami jadikan Engkau khalifah di muka bumi, tegakkan hukum di antara manusia dengan benar dan jangan Engkau ikuti hawa nafsu yang akan menyelewengkanmu/ menyimpangkanmu dari jalan Allah swt. Sesungguh orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, bagi mereka azab yang pedih yang mereka lupakan pada hari perhitungan.”

Di dalam ayat ini Allah menggunakan kata-kata “innâ”, yang berarti “kami.” Penggunaan “inna”, selain untuk memuliakan Allah dan bentuk jamak, adalah menunjukkan keterlibatan kita sebagai manusia yang menjadikan “Dawud” sebagai khalifah. Artinya, Allah melibatkan ‘masyarakat’ pada masa Dawud di dalam penunjukkan pemimpin dan dalam pengawasannya. Kita bisa ambil pelajaran dari ayat ini bahwa di dalam kepemimpinan: ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Itu artinya, menuntut adanya keterlibatan semua pihak. Tegasnya, masyarakat pun harus ikutserta dan mengawasi jalannya kepemimpinan itu. Apa yang harus diawasi dalam kepemimpinan itu? AMANAH. Amanah apa yang dibebankan kepada pemimpin itu, dalam tingkat apapun, dari masyarakat.

Allah swt. berfirman di dalam QS. Al-Ahzâb/33:72, bismillahirrahmanirrahim. Innâ ‘aradlnâl amânata ‘alas samawâti wal ardli wal jibâli fa’abayna ayyahmilnahâ wa asyfaqna minhâ, wa hamalahal insânu, innahu kâna zalûman jahûlan. Artinya: “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka semua tidak mau dan merasa berat (dengan amanah tersebut), lalu manusia yang (menerima amanah itu) dan memikulnya, sesungguhnya manusia itu zalim dan jahil.”

Apakah makna amanah di dalam ayat tersebut? Imam Jalaluddin al-Suyuthi menjelaskan di dalam tafsirnya al-Durr al-Mansûr fi al-Tafsîr bi al-Ma’sûr, jilid 6, hlm. 518(?), bahwa kata amanah berarti bimâ umirû lahu wa mâ nuhû ‘anhu, apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Allah swt. Jadi, amanah adalah tanggung jawab untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Artinya, seorang pemimpin harus melaksanakan program apapun untuk kepentingan umum yang sesuai dengan aturan dan prinsip yang telah Allah tetapkan di dalam Alquran. Berarti amanah itu berat? Ya, memang amanah itu berat.

Menunaikan amanah ini penting dan wajib hukumnya bagi setiap orang yang diberi amanah. Allah swt. berfirman di dalam QS. Al-Nisâ’/4:58. Bismillahirrahmanirrahim. Innallâha ya’murukum an tu’addul amânâti ilâ ahlihâ, wa izâ hakamtum baynan nâsi, an tahkumû  bil ‘adli (…). Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang ahlinya (yang berhak menerima amanah itu), dan jika kalian memutuskan suatu persoalan di antara manusia, putuskanlah dengan adil…”

Jadi, pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang melakukan suatu hal yang sesuai dengan aturan yang Allah buat. Aturan itu adalah yang bersifat semuanya baik, antara lain: bersikap adil. Tapi, kira-kira pemimpin macam apa yang bersifat amanah dan adil ini? Siapa yang menjadi teladan bagi kita? Tidak lain, tentunya, Rasulullah saw. Berdasarkan QS. Alu-Imran/3:159 bahwa ciri akhlak Rasulullah di dalam memimpin: bersikap lembut, selalu meminta maaf dan memaafkan, bermusyawarah, dan terakhir memasrahkan hasil akhirnya kepada Allah swt. (tawakal). Selain keempat sifat terpuji ini, yang paling luar biasa dari teladan kepemimpinan Rasulullah adalah sikap beliau yang sangat sederhana.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah orang yang sangat sederhana. Anas Ibn Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah hanya punya 1 sho’ (sekitar 500 gram) gandum untuk pagi dan 1 sho’ lagi untuk sore. Jatah gandum itu untuk memberi makan 9 rumah yang menjadi tanggungjawab Rasulullah. Coba bandingkan dengan pemimpin kita? Bukan 500 gram beras yang dimiliki untuk dimakan pada sore hari, tapi 1 ton BBM, gunung emas di papua, hutan di Kalimantan itu menjadi santapan paginya. Bayangkan, betapa rakusnya pemimpin kita.

Seorang sahabat meriwayatkan, Abu Thalhah, bahwa Nabi tidak makan 3 hari. Kalau lapar ia taruh batu di perutnya. Nabi sumpel perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Bandingkan dengan pemimpin kita: bukan pemimpin yang lapar, bukan pimpinan yang tidak makan 3 hari, tapi rakyat yang kelaparan, masyarakat yang tidak makan berhari-hari. Tidak ada sama sekali kepekaan sosial para pemimpin kita.

Kesederhaanaan Rasulullah sebagai pemimpin semakin terbukti ketika Nabi wafat. Saat Rasulullah wafat, ia tidak meninggalkan apapun. Diriwayatkan bahwa saat Rasulullah wafat, baju besinya tergadaikan pada seorang Yahudi untuk mendapatkan satu (wasaq/karung) gandum, anna rasûlûllâh saw. tuwuffiya, yawma tuwuffiya wa dir’uhu marhûnatun ‘inda rojulim minal yahûdi biwasaqin min sya’îrin (akhlaqun nabiyy, abu al-syaikh al-isbahani). Di dalam riwayat lain, bahwa saat Rasulullah meninggal, beliau tidak meninggalkan apapun, (wa lâ dînaran) tidak 1 dinar, (wa lâ dirhaman) tidak 1 dirham, (wa lâ ‘abdan) tidak budak lelaki, dan (wa lâ amatan) tidak juga budak perempuan. Coba bandingkan dengan pemimpin kita: saat memimpin saja dikejar-kejar KPK, masuk penjara akibat kerakusan diri untuk memuaskan dahaga ingin kaya. Bahkan, mau meningglkan pun masih dikejar oleh penegak hukum dan kalau mati, nama pemimpin kita menjadi abadi karena keburukannya, na’uzubillah, pemakan uang rakyat, penindas masyarakat, zalim dan tiranik sikapnya, tidak peduli dengan masyarakat, yang penting dirinya dan keluarganya.  Seorang pemimpin harus menjadi teladan bagi yang dipimpin.

Wallahu a'lam.

Tuesday, 1 January 2013

Makna Umat di dalam Alquran

oleh: Ayang Utriza YAKIN

•    Secara kebahasaan kata ini memiliki kesamaan akar kata dalam bahasa Ibrani (ummâ), Aramia (umetha), dan Akkad (ummatu), yang berarti : keteladanan, kecantikan, ketinggian, contoh pribadi yang berakhlak (bermoral).
•    Ummat di dalam Alquran merujuk kepada suatu kelompok atau masyarakat yang memiliki agama yang sama.
•    Bentuk jamak dari kata tersebut “umat” di dalam Alquran merujuk kepada “bangsa-bangsa”.
•    Pada perkembangan selanjutnya, kata “ummat” merujuk kepada kelompok atau masyarakat muslim (komunitas muslim).
•    Di dalam Alquran, kata ummat memiliki banyak makna :
I.    Umat berarti waktu  (QS.11, 8; QS. 10:47 & QS. 12:45).
J.    Umat berarti sekelompok hewan (QS.3:38).
K.    Umat juga berarti sekelompok jin (QS.41:25)
L.    Umat berarti seorang pemimpin yang menunjukkan ‘kebaikan’, misalnya untuk kata itu digunakan untuk menyifati Nabi Ibrahim (QS. 16:120).
M.    Umat berarti kelompok yang memiliki keyakinan yang sama (QS. 7:34, QS. 15:5).
N.    Ummat wahidah sebagai umat yang satu (QS. 23:52, QS. 21:92), yaitu satu umat manusi. Tetapi, walau mereka satu umat, tapi mereka tetap akan berbeda (QS. 10:19). Jadi, perbedaan itu merupakan hal alamiah.
O.    Umat yang dituju oleh Alquran adalah ummatan wasatan (QS.2:143) umat Islam yang moderat, yaitu umat yang mengajak kepada kebaikan (QS.3:104), umat yang menegakkan keadilan dan keseimbangan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka umat adalah sekelompok orang yang memiliki agama yang sama yang menunjukkan ketinggian budi pekerti dan keagungan akhlak yang menjadikan kelompok agama tersebut “teladan” bagi umat lain, bagi manusia lain.

Umat Islam berarti umat yang memiliki kemulian akhlak yang menjadi teladan bagi orang lain. Umat yang ramah, bukan marah. Umat yang hidup jujur, bersih, tepat waktu, toleran, menghargai orang lain, bukan umat yang suka korupsi, narkoba, jual sumber daya alam ke pihak asing, rusak lingkungan hidup, alam, hutan, jual manusia untuk dijadikan budak seks dan budak pekerjaan, mafia kedokteran, mafia tanah, mafia pajak, pelanggar HAM, penyebar virus HIV/AIDS, tidak pernah menghargai orang…

Sumber bacaan :
Alquran al-Karim.
EI, umma, vol. 10, tahun 2000, h. 859, 861-3

Makna "Ummatan Wasatan" di dalam QS. 2:143

oleh: Ayang Utriza YAKIN

Umat Islam yang diidamkan oleh Alquran adalah “umat wasatan”, yang berarti umat yang berada di tengah-tengah (wasatiyyah).

Tetapi, apakah makna “ummat wasatan” di dalam al-Baqarah ayat 143 tersebut ?

Menurut Ibnu Abbas, al-Suyuti, dan al-Baydlawi, di dalam tafsir mereka masing-masing, bahwa makna wasatan adalah “adil dan seimbang”. Artinya, umat Islam itu harus selalu berbuat adil, harus melakukan sesuatu itu dengan seimbang antara ilmu dan amal, antara teori dan praktek, mengerjakan sesuatu harus sesuai dengan tuntutan Alquran dan Ilmu pengetahuan.

Ummatan wasatan adalah umat Islam yang Moderat, yaitu umat yang tidak ekstrem kanan (salafi-wahabi, jihadi, integris, fundamentalis, dan radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal, ultra-liberal). Umat Islam itu harus berada di tengah-tengah : moderat.

Ummatan wasatan adalah umat Islam yang dapat menerima perbedaan pendapat, karena perbedaan adalah hal yang alamiah, walaupun dalam satu agama (QS. 10:19).

Oleh karena itu, jangan merasa paling benar sendiri. Jangan menganggap yang lain itu kafir, hanya berbeda pendapat. Jangan merasa hanya diri yang sebagai paling islami dibanding yang lain. Jangan menganggap surga itu milik kelompoknya saja. Jadilah orang yang dapat menerima kebenaran itu dari mana saja datangnya, seperti kata Rasulullah saw ‘khuzil hikmah min ayyi wi’a’in kharajat’.  

Lalu, apakah ciri ummatan wasatan itu ?

Menurut Khaled Abou-Fadl, adalah umat yang toleran dan dapat hidup berdampingan dengan damai dengan siapapun yang berbeda agama dan keyakianan.

Menurut KH. Achmad Siddiq, adalah umat yang menunjukkan, menampilkan, mengejawantahkan, dan melakukan empat hal : tawassut, tawazun, ta’adul, dan tasamuh, yaitu selalu bersikap di tengah-tengah, seimbang, adil, dan toleran.

Berdasarkan keterangan di atas, maka “ummatan wasatan” adalah umat Islam yang damai, ramah, toleran, dan menegakkan keadilan.

Wallahu a’lam.

Sumber bacaan :

Tafsir Ibnu Abbas, Juz I, h. 24,
Tafsir al-Suyuti, al-Durr al-Mansur fi al-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Juz I, h. 348
Tafsir al-Baydlawi, Juz I, h. 431
The NU and Islam Moderatism in Indonesian Islam, A. Najib Burhani, 2012.

Sunday, 2 December 2012

Tahun Baru Islam Hijriyyah: Menggapai Hari Esok Lebih Baik

Ayang Utriza Yakin


Ada tiga hal yang kita minta di dalam doa Tahun Baru Islam Hijriyyah :

1.    Perlindungan dari setan, para penolong dan bala tentara setan.
2.    Pertolongan atas nafsu amarah (jiwa yang selalu condong kepada keburukan dan maksiat)
3.    Penguatan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.


Doa yang pertama adalah perlindungan dari setan, para penolong dan bala tentara setan.
Doa ini ada dasarnya di dalam Alquran. Allah memperingati kita agar jangan menjadikan setan dan keturunannya sebagai penolong kita (QS. 18:50). Yang mengambil setan sebagai penolong atau teladan sungguh amat merugi. Setan akan memberi khayalan dan angan-angan yang sesungguhnya hanya kebohongan belaka (QS. al-Nisâ’/4:119-121). Oleh karena itu, setan harus dijadikan musuh bagi kita (QS.35:6), karena setan adalah musuh yang nyata (QS.36:60).

Setan di sini bukan berarti makhluk makhluk halus yang tak terlihat. Setan di sini berarti sifat, artinya sifat setan.

1.    Setan itu adalah suatu sifat yang suka menganggu dan mengusik ketenangan, kebahagian dan ketentraman orang lain. Antara lain, contohnya, suka mengganggu suami-istri agar cerai, putus, berantem atau tidak tentram dan bahagia dalam hubungan mereka (QS. al-Baqarah/2:102:…fayata’allamuna minhuma ma yufarriquna bihi baynal mar’i wa zawjihi.).

2.    Setan adalah suatu sifat ‘anâ kyahrun minhu’, penyakit ‘saya lebih baik darinya’, yaitu sifat sombong, takabbur, angkuh, jumawa, merasa hebat, penyakit megalomania, dstnya (QS. al-A’râf/7:12-13: …fama yakûnu laka an tatakabbara...).

3.    Setan adalah sifat suka berfoya-foya (mubazzir), QS. al-Isrâ’/17:26-27…wa la tubazzir tabziran, innal mubazzirina kanû ikhwânasy syayatin..). Contohn, membeli yang tidak perlu dibeli, misalnya pakaian masih banyak dan bagus-bagus, beli lagi; tas masih bagus, beli lagi; makanan dan minuman yang berlebihan, dstnya).


Doa yang kedua adalah pertolongan atas nafsu amarah (jiwa yang selalu condong kepada keburukan dan maksiat).
Nafsu amarah adalah jiwa yang selalu condong kepada keburukan dan maksiat. Di sini ada kata nafs, apa arti nafs itu? Nafs itu jiwa. Ada 3 bentuk jiwa seorang muslim : (Sumber : Imam al-Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumiddin, hlm. 131):

nafs al-muthmainnah : adalah jiwa yang telah bersih dan suci berkat zikir kepada Allah, maka syahwat dan sifat-sifat buruk sudah hapus. (QS. al-Fajr/89:27).

nafs al-lawwâmah : nafs yang mencela perbuatan maksiat dan tidak condong kepadanya, serta tidak rela dengan perbuatan maksiat itu. (QS. al-Qiyamat/75:2)

nafs al-ammârah : nafs yang tidak menyuruh kepada perbuatan baik dan tidak juga mencela perbuatan buruk. Titik paling dalam nafs. (QS. Yusuf/12:53). Setelah mengalami banyak hal dalam kehidupan, misalnya jauh dari ajaran agama, maka nafsu ini akan condong kepada keburukan… Nafsu amarah diidentikkan dengan marah, nafsu seks, dan sifat-sifat buruk. Dalam Psikologi, Freud menjelaskan ini sebagai tingkatan Id : sesuatu yang primitif, tidak jauh dengan binatang. Dasar penjelasan nafsu amarah ini adalah QS. Yusuf/12:35: wa ma ubarri’u nafsi, innanafsa l’ammâratum bissûs’I illâ ma rahima rabbî, inna rabbî gafûr rahîm. Nafsu amarah cenderung kepada sesuatu yang tidak baik. Kebanyakan umat Islam masuk, termasuk kita, dalam kategori ini. Semoga Allah swt. membimbing kita agar bisa naik kelas, paling tidak kelas II : nafsu lawwamah.


Doa yang ketiga adalah agar Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Untuk menyambut tahun baru Islam ini, Rasulullah mengajurkan untuk:

1.    Menyantuni anak yatim-piatu dan fakir-miskin
2.    Berpuasa pada 9-10 Muharram.

Lalu dengan:

3.    Salat 5 waktu berjemaah di masjid.
4.    Baca Alquran setiap hari
5.    Berpuasa Senin-Kamis
6.    Bersedekah
7.    Menjaga alam lingkungan sekitar, hutan, laut


Wallahu a’lam


Friday, 21 September 2012

Kontroversi Film dan Karikatur Nabi Muhammad saw.

Khutbah Jumat 21 September 2012 di KBRI Paris

Oleh: Ayang Utriza NWAY
Mahasiswa PhD Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris.

2 Minggu belakangan ini umat Islam di dunia sedang mengalami cobaan dan musibah berupa pelecehan dan penghinaan Nabi Muhammad saw. dalam bentuk film dan karikatur.

Film The Innocence of Muslim yang dibuat oleh Sam Bacile alias Nakoula Basseley Nakoula, warga negara AS asal Mesir beragama Kristen-Koptik, dinilai sebagai film ttg Nabi Muhammad saw. yang menghinakan dan melecehkan. Akibatnya, film itu menuai kritik, protes, dan bahkan menelan korban jiwa dari orang-orang yang tak bersalah.

2 hari yang lalu, koran mingguan di sini, Charlie Hebdo, terbit pada Rabu 19 September 2012, nomor 1057, dengan judul «Intouchable 2. » dianggap menampilkan karikatur Nabi Muhammad saw. yang melecehkan.

Koran Charlie Hebdo, bukanlah pertama kali menampilkan karikatur Nabi Muhammad saw. Pada nomor khusus yang terbit pada Rabu 8 Februari 2006, Charlie Hebdo pun menerbitkan karikatur dengan judul « Muhammad débordé par les intégristes, » (Muhammad disibukkan oleh orang-orang muslim fundamentalis). Di karikatur tersebut terdapat ucapan yang keluar dari Nabi « C’est dûr d’être aimé par des cons. » (Betapa beratnya dicintai oleh orang-orang bodoh!)

Terus BerulangPelecehan dan penghinaan terhadap figur suci umat Islam ini bukanlah kali pertama terjadi.

Pada 30 Oktober 2005, koran besar di Denmark Jyllands-Posten memuat gambar kartun Nabi Muhammad saw. dengan bom di atas sorbannya yang dibuat oleh kartunis Kurt Westergaard. Akibat perbuatannya saat itu, dirinya diancam dibunuh dan umat Islam di seluruh dunia marah atas pemuatan karikatur Nabi tersebut.

Setiap kejadian seperti itu, umat Islam berdemontrasi menuntut pemerintah di mana kartunis dan koran atau sutradara tersebut berada, berarti mereka menuntut Amerika, Prancis, Denmark meminta maaf dan menghukum kartunis yang menggambar karikatur Nabi tersebut. Para pemimpin negara-negara Islam di dunia mengutuk perbuatan yang melecehkan agama Islam itu.

Bahkan, untuk kasus kartun di Denmark, pemimpin negara-negara di Timur Tengah, seperti Mesir, Saudi Arabia, Yordania, Palestina dan lainnya, memboikot semua produk Denmark.

Negara-negara yang memuat kembali kartun itu, seperti di Prancis, Belanda, Jerman, Norwegia dan Italia menuai protes dari umat Islam setempat. Media massa di beberapa negara muslim yang memuatnya, semisal tabloid Shihane di Yordania dihukum oleh Raja Abdullah.

Di Indonesia, pranala koran Rakyat Merdeka mendapat «serbuan» Front Pembela Islam (FPI). Tabloid Peta di Bekasi kembali memuatnya pada edisi 6-12/2/2005 harus menariknya kembali karena demonstrasi umat Islam.

Reaksi umat Islam terhadap pelecehan ini sungguh luar biasa.

Jauh sebelum peristiwa-peristiwa tersebut di atas, pada tahun 1990-an tentu kita masih ingat kasus novel Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses) karya Salman Rushdie yang memancing kemarahan umat Islam saat itu. Sampai-sampai Pemimpin Besar Iran saat itu Imam Khomeini mengeluarkan fatwa mati bagi Rushdie, dan menyediakan hadiah uang bagi yang dapat membawa kepala pemenang Nobel Sastera itu. Minggu lalu, tahun 2012, Pemerintah Iran baru saja meningkatkan imbalan uang bagi yang dapat membunuh Salman Rushdi ini.

Di Indonesia, tentu masih segar dalam ingatan kita kasus Arswendo Atmowiloto. Tabloid Monitor yang dipimpinnya mengeluarkan hasil jajak pendapat orang terpopuler di Indonesia. Dan hasilnya Nabi Muhammad di urutan ke-11, berada jauh di bawah Presiden Suharto kala itu. Umat Islam marah. Arswendo pun harus menginap di hotel prodeo untuk beberapa tahun. Dan tentu masih banyak lagi kasus-kasus lain seputar pelecehan terhadap Nabi.

Beda Agama, Beda SikapPelecehan terhadap simbol-simbol keagamaan sangar rentan membakar emosi umat. Mereka memandang melecehkan Nabi, berarti melecehkan Islam dan hal itu tidak bisa ditolerir. Para ahli hukum Islam sepakat bahwa menggambar, mematung dan semua bentuk visualisasi Nabi dilarang. Apalagi jika sesuatu (lisan maupun tulisan) itu melecehkan Nabi, fukaha menjatuhkan hukuman zindiq (blaspheme/kafir) yaitu mati.

Islam sangat keras menentang visualisasi Nabi dalam bentuk apapun, sementara dalam ajaran agama lain visualisasi Nabi, mungkin, dipandang sebagai hal yang biasa. Apalagi, ‘melecehkan’ sosok dan tokoh yang dihormati, di dalam Islam, sama sekali tidak dibenarkan, dan pasti akan memunculkan reaksi umat yang luar biasa. Contoh teranyar adalah kasus film sutradara Belanda Theo van Gogh yang dianggap melecehkan Nabi saw., sampai seorang ektremis Muslim imigran asal Maroko di Belanda membunuhnya.

Dalam agama lain, mungkin, tidak seperti ini, karena kebebasan mencipta dan berkarya adalah hak asasi yang dijunjung tinggi. Kebebasan cipta dan karya hingga pun melecehkan Yesus dalam bentuk gambar, kartun, dan film dianggap dingin oleh umat Katolik dan Protestan di Eropa. Gambar dan kartun yang melecehkan Yesus itu cukup banyak kita jumpai di Eropa, tetapi tidak digubris oleh umat Kristiani. Film-film sutradara Italia Pier Paolo Pasolini ‘melecehkan’ Yesus dan gereja, dengan menggambarkan skandal seks kalangan gerejawi dan Yesus. Tetapi, untuk satu kasus ini, akhirnya, Pasolini pun mati dibunuh ekstremis Katolik Italia.

Perbedaan menanggapi kebebasan berkarya dari kedua agama samawi ini karena sejarah masing-masing agama berbeda. Kristen telah mengalami reformasi keagamaan yang luar biasa melalui modernisasi. Anak kandung modernisme Eropa melahirkan sekularisme, berupa pemisahan agama dan politik. Hasilnya, antara lain, kebebasan cipta dan seni yang tidak lagi harus takut, tunduk, dan patuh terhadap aturan agama, karena seni adalah ruang publik di mana agama tidak boleh mengintervensinya, sebab agama hanya hidup di ruang privat.

Hukum NegaraTentu kebebasan berekspresi harus dihargai dan dijunjung tinggi oleh siapa pun. Namun, harus ada batasannya. Jika kebebasan itu melecehkan keyakinan orang lain, maka hal itu tidak bisa dibenarkan dinilai dari sudut pandang manapun. Kebebasan yang tak ada aturannya akan terjerumus pada kekacauan. Oleh karena itu, perlu dibuat aturan hukum yang jelas. Sehingga para pekerja seni termasuk kartunis dapat mengetahui batasan-batasan mana yang boleh dan dilarang, paling tidak untuk negara-negara muslim. Untuk negara-negara Eropa, mungkin, para pemilik media massa harus mengerti dan sadar akan hal yang satu ini.

Hal ini penting untuk menghindari tindakan anarkis dari umat Islam dalam menanggapi masalah seperti ini.

Bagaimanakah negera-negara muslilm dan Islam melihat kasus pelecehan terhadap agama atau nabi ini?

Hukum pidana di negara-negara muslim (Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam) dan negara Islam (Negara yang menerapkan syariat Islam) berbeda dalam melihat kasus pelecehan Nabi Muhammad. Beberapa contoh dapat kita lihat di paparan berikut ini.

Negara muslim seperti Brunei Darussalam dan Mesir tidak mengatur secara jelas hukum pelecehan Nabi. UU pidana Brunei, edisi revisi 2001, Bab XV tentang pelanggaran terhadap agama, pasal 298 hanya menyebutkan tindakan menghina keyakinan agama seseorang dihukum 1 tahun penjara atau didenda atau keduanya. Sementara di Mesir, UU Pidana No. 58 tahun 1937, pasal 160 dan 161 hanya mengatur masalah pelecehan tempat-tempat suci dan acara keagamaan dihukum maksimal 1 tahun penjara atau denda 20 pounds Mesir.

Adapun negara Islam terbagi menjadi dua: pertama, negara Islam yang tidak secara jelas mengatur hukum pelecehan Nabi, seperti Nigeria dan Yaman. Di Zamfara, negara bagian Nigeria, UU pidana Islam no. 10 tahun 2000, pasal 400 hanya menyebutkan perbuatan menghina agama dihukum 2 tahun penjara atau denda atau keduanya. Begitu juga di Yaman, UU No. 12 tahun 1994, pasal 261 hanya mengatur pelecehan tempat-tampat suci agama dihukum maksimal 1 tahun penjara dan denda 1000 riyal.

Kedua, negara Islam yang secara jelas mengatur hukum penghinaan terhadap Nabi Muhammad, seperti Iran dan Pakistan. Di Iran, UU pidana Islam 1991, Buku ke-V tentang ta’azirat (diratifikasi 22 Mei 1996) Bab 2, pasal 513 menyatakan siapa saja menghina kesucian Islam atau para imam atau sadiqah tahirah maka akan dihukum mati, jika hinaannya sama dengan menghina secara lisan kepada Nabi Muhammad.

Di Pakistan, UU Pidana Pakistan 1860, pasal 295-C menyebutkan siapa saja dengan kata-kata, baik lisan atau tulisan atau sesuatu yang dapat terlihat atau imputasi atau sindiran atau tuduhan halus, baik langsung ataupun tidak langsung, melecehkan kesucian nama Nabi Muhammad saw. akan dihukum mati atau penjara seumur hidup dan membayar denda.  

Dengan demikian, Iran dan Pakistan adalah dua negara Islam yang mengatur dengan jelas hukum penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi, yaitu dihukum dengan hukuman mati. Negara Islam lainnya, seperti Nigeria (Zamfara) dan Yaman, hanya dihukum penjara dan denda. Adapun negara-negara muslim tidak mengatur secara khusus pasal pelecehan Nabi, karena itu bentuk hukumannya pun berbeda tergantung pasal mana yang akan digunakan.

Di Indonesia sendiri, dalam KUHP tidak ada pasal khusus yang mengatur masalah pelecehan agama. Bab XXX tentang penerbitan dan pencetakan, pasal 483 dan pasal 484 hanya menyebutkan orang yang menerbitkan atau mencetak tulisan atau gambar yang merupakan perbuatan pidana dapat dihukum satu tahun 4 bulan penjara atau kurungan paling lama 1 tahun atau denda Rp. 300.

Sikap Umat IslamApa yang dipertontonkan oleh umat Islam belakangan ini dengan kemarahan berupa pembakaran, penyerangan simbol-simbol Barat dan Amerika, seperti kedutaan, hingga menimbulkan korban jiwa patutlah disayangkan. Lagi-lagi hanya citra Islam yang buas yang muncul dari kasus ini. Demontrasi damai tentu boleh, tetapi kalau sudah pembakaran dan penyerangan tentu hal ini dilarang di dalam Islam.

Menanggapi kasus-kasus seperti ini harus ditanggapi dengan kepala dingin dan harus mencontoh teladan Rasulullah saw. pribadi yang selalu menjadi obyek pelechan dari dulu hingga sekarang, sesuai dengan firmah Allah swt.

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al-Ahzâb/33:21).”

Nabi Muhammad saat dihina dan dilecehkan ketika akan berdakwah ke Taif, Nabi tidak marah. Tidak lantas menyerang penduduk Taif, apalagi membunuh mereka. Sebaliknya, Nabi Muhammad mendoakan mereka “Allahummahdi fa’innahum la ya’lamun, ya Allah berilah mereka hidayah, petunjuk, sesungguhnya mereka tidak tahu.

Setiap hari Rasulullah mendapat hinaan, ejekan, ancaman, dan bahkan siksaan. Misalnya, setiap saat Rasulullah berjalan di hadapan Walid Ibn al-Mughirah, Umayyah Ibn Khalaf, dan Abu Jahal Ibn Hisyam, mereka mengejek-ejek Rasulullah, lalu turunlah ayat

"Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka" (QS. al-An’âm/6 :10) (Ibn Hisyam, Sîrah al-Nabawiyyah, Beirut, Dâr al-Ma’rifat, t.t., vol. II, p. 186.).

Saat Rasulullah diejek dan dihina, ia hanya bersabar dan tetap rasional (sabiran wa muhtasiban) dan menasehati para sahabatnya untuk bersabar dari pendustaan, penyiksaan, dan penghinaan (h. 213.). Dalam menghadapi ujian seperti pelecehan kartun dan film Rasulullah, kita umat Islam harus sabar. Tidak boleh anarkis, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah : sabar dan tetap rasional

Oleh karena itu, janganlah kita ikut masuk ke dalam permainanan dan genderang mereka. Janganlah terlalu peduli dengan hal-hal kecil yang amat remeh-temeh ini. Kalau perhatian kita terlalu besar terhadap hal-hal seperti itu, hanyalah menguntungkan si kartunis, koran, pembuat film, dan produser. Mereka semua menjadi terkenal dan kaya, sementara kita tak mendapat apa-apa. Mereka yang berkepentingan dengan imbas politik dari hal ini bertepuk tangan dan bersorak-sorai gembira karena berhasil memprovokasi umat Islam.

Marilah kita lihat kartun dan film itu sebagai sesuatu yang tak berharga, seperti sampah atau seperti kotoran yang keluar dari tubuh kita yang kita buang setiap pagi.

Barakallahu lakum fil qurânil azim, wa nafa’ani wa iyyâkum bimâ fîhi minal âyâti wa zikril hakîm. Wa taqabballalâhu minnî wa minkum tilawatahu innahu huwas samî’ul ‘alîm. Fastagfirûhu fayâ fawzal mustagfirîn wa ya najâtat tâ’ibîn.